WASPADA OBAT TRADISIONAL MENGANDUNG BAHAN KIMIA OBAT

0

Jakarta – Obat Tradisional (OT) merupakan campuran bahan-bahan alami sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk memberikan efek kerja dibanding obat kimia biasa. Namun seringkali masyarakat menginginkan OT yang efeknya cespleng. Padahal sebaliknya, jika khasiat OT cespleng dalam sekali minum justru perlu diwaspadai karena kemungkinan ditambahkan bahan kimia obat (BKO). Dan lebih parahnya lagi BKO ini seringkali ditambahkan dalam jumlah yang tidak terukur, sehingga berpotensi membahayakan kesehatan.

Menindaklanjuti maraknya peredaran OT mengandung bahan berbahaya/BKO di Indonesia akhir-akhir ini, Badan POM secara kontinu melakukan pengawasan rutin maupun inspeksi ke sarana produksi, sarana distribusi, atau retail yang dicurigai memproduksi atau mengedarkan OT mengandung BKO. Selama periode bulan Desember 2015 hingga September 2016, Badan POM melalui Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia menemukan 43 OT mengandung BKO, 26 diantaranya tidak memiliki izin edar Badan POM (ilegal). BKO yang teridentifikasi dicampur ke dalam produk OT tersebut didominasi oleh sildenafil dan turunannya.

 

Sildenafil sendiri merupakan obat yang diindikasikan untuk mengobati disfungsi ereksi dan hipertensi arteri pulmonal. Obat ini umum dikenal dengan nama Viagra dan paling dominan digunakan sebagai obat disfungsi ereksi pada pria. Sildenafil dan turunannya termasuk golongan obat keras yang hanya boleh digunakan sesuai petunjuk dokter. Jika digunakan secara tidak tepat, BKO ini dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan diantaranya kehilangan penglihatan dan pendengaran, stroke, serangan jantung, bahkan hingga kematian. Mengingat tingginya risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh OT mengandung BKO maka Badan POM mengeluarkan peringatan/public warning sebagaimana terlampir dengan tujuan agar masyarakat lebih waspada dan tidak mengonsumsi produk berbahaya tersebut.

 

OT mengandung BKO bukan hanya ditemukan di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Berdasarkan informasi melalui ASEAN Post-Marketing Alert System (PMAS) dan informasi dari negara lain, sebanyak 50 OT dan suplemen kesehatan (SK) mengandung BKO juga ditemukan di Singapura, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat.

 

Sebagai tindak lanjut hasil temuan, telah dilakukan penarikan dari peredaran terhadap OT mengandung BKO tersebut dan dilanjutkan dengan pemusnahan. Pada tahun 2016 ini, pemusnahan telah dilakukan terhadap produk jadi OT senilai 36,5 miliar rupiah dan bahan baku senilai 3 miliar rupiah. Pembatalan nomor izin edar juga dilakukan terhadap OT yang sebelumnya telah memiliki izin edar Badan POM, namun teridentifikasi mengandung BKO setelah beredar. Sejumlah 7 perkara OT mengandung BKO berhasil diungkap Badan POM dan telah diproses secara pro-justitia. Sementara, perkara OT ilegal lainnya yang juga telah diproses melalui jalur hukum berjumlah 33 perkara.

Baca Juga:  Komplikasi Terbaru Virus Zika

 

Kejahatan pelanggaran Obat dan Makanan adalah kejahatan kemanusiaan sehingga Badan POM tidak bekerja sendiri dalam penanganan kasus ini. Koordinasi selalu dilakukan dengan berbagai instansi terkait, antara lain Kepolisian dan Kejaksaan untuk penanganan dari segi hukum, Pemerintah Daerah Kab/Kota (Dinas Kesehatan/Dinas Perindustrian/Dinas Perdagangan), Asosiasi di bidang OT & SK  melalui Kelompok Kerja Nasional Penanggulangan Obat Tradisional mengandung Bahan Kimia Obat (Pokjanas Penanggulangan OT-BKO), dan penguatan kerja sama ASEAN melalui PMAS. Badan POM juga terus melakukan penggalangan kerja sama dengan berbagai negara seperti Australia, China, Amerika, dan lain-lain.

 

Badan POM mengingatkan para pelaku usaha untuk tidak memproduksi dan/atau mengedarkan OT dan SK yang tidak sesuai ketentuan karena kegiatan tersebut merupakan tindak pidana dan dapat dikenai sanksi hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Juga, kepada masyarakat agar lebih waspada serta tidak mengonsumsi produk-produk sebagaimana tercantum dalam lampiran peringatan/public warning ini ataupun yang sudah diumumkan dalam peringatan/public warning sebelumnya. Masyarakat juga diminta untuk berperan secara aktif, jika menemukan hal-hal mencurigakan terkait produksi dan peredaran OT dan SK secara ilegal atau mengandung BKO, dapat menghubungi Badan POM melalui jalur kontak yang tercantum di bawah ini. Ingat selalu Cek KIK, pastikan kemasan dalam kondisi baik, memiliki Izin edar Badan POM, dan tidak melebihi masa Kedaluwarsa.

Sumber: bpom.go.id

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

Contact Center HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533, SMS 0-8121-9999-533, email halobpom@pom.go.id, twitter @bpom_ri, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

Share.

About Author

Emilio Pandika is an internal medicine physician with a passion and mission to help people get healthy (and happy) with simple positive daily lifestyle changes.

Leave A Reply