Transplantasi Kepala Manusia Pertama Direncanakan 2017

0

Mediamedis.com – Seorang ahli bedah syaraf asal Italia, Dr Sergio Canavero dari Turin Advanced Neuromodulation Group di Italia, untuk pertama kalinya dalam sejarah, menyampaikan rencananya untuk melakukan transplantasi kepala manusia. Proyek besar itu diberi nama HEAVEN (head anastomosis venture) and Gemini (the subsequent spinal cord fusion).

Rencana Dr. Canavero ini dipublikasikan dalam jurnal Surgical Neurology International pada bulan Juni 2013 dan kembali dipresentasikan pada tahun 2015 pada kongres tahunan ke 39 dari American Academy of Neurological and Orthopaedic Surgeons’s.

Rencana dari Dr. Canavero ini banyak mendapat tantangan dari kalangan peneliti dan dokter, yang menyangsikan keberhasilan dari prosedur ini. Pihak yang menentang prosedur tersebut tidak yakin bahwa setelah prosedur selesai, otak dari si pasien akan masih berfungsi.

Sedangkan Dr. Canavero sendiri memiliki keyakinan bahwa keberhasilan dari prosedur ini adalah 90%, walaupun dia menyadari tetap akan ada masalah-masalah marginal.

Prosedur yang diperkirakan akan memakan waktu selama 36 jam tersebut, akan melibatkan tim yang terdiri dari 150 orang, termasuk di antaranya 100 orang dokter dari berbagai spesialis. Biaya dari prosedur ini diperkirakan akan mencapai 20 juta USD.

Di samping segala keraguan dan tantangan dari berbagai pihak, nampaknya transplantasi kepala manusia ini semakin dekat untuk menjadi kenyataan. Valery Spiridonov, seorang ahli komputer dari Rusia, mencalonkan dirinya sebagai orang pertama yang menjalani transplantasi kepala.

Valery Spiridonov berusia satu tahun ketika dia diketahui menderita penyakit Werdnig-Hoffman, suatu kelainan genetik langka yang menyebabkan kelemahan dari otot. Kelainan ini disebabkan karena hilangnya sel-sel saraf motorik pada saraf tulang belakang dan otak, individu dengan kelainan ini tidak dapat berjalan dan bahkan tidak dapat duduk tanpa bantuan.

Spiridonov sangat tergantung pada kursi roda, dia mengatakan bahwa dia telah kehilangan kontrol akan tubuhnya, dan membutuhkan bantuan orang lain dalam segala aspek kehidupannya.

[two_third]Spiridonov yang saat ini berusia 31 tahun, menyatakan bahwa dia bersedia untuk menjadi pasien percobaan dalam project Heaven-Gemini ini karena dia ingin mendapat kesempatan untuk memperoleh tubuh baru sebelum dia meninggal. Pada umumnya penderita Werdnig-Hoffman tidak dapat bertahan hidup lebih dari 20 tahun.

Menanggapi keraguan dan tantangan dari berbagai pihak, Spiridonov tetap optimis. ” Saya memperoleh kesempatan untuk mengganti seluruh tubuh saya, sehingga dapat menyingkirkan keterbatasan yang saya miliki hingga dapat menjadi mandiri “, ujar Spiridonov.[/two_third]

[one_third_last]

Spiridonov ingin menjadi orang pertama di dunia yang menjalani transplantasi kepala

[/one_third_last]

Menurut rencana, pada saat operasi, tim akan dibagi dua, satu tim berfokus pada Spiridonov satu lagi akan berfokus pada tubuh donor. Tahap awal adalah menurunkan suhu kepala dari Spiridonov hingga 12-15 derajat celcius, sehingga kondisi otak menjadi ‘brain dead‘ (mati otak) untuk sementara waktu, hal ini dilakukan untuk mencegah kematian dari sel-sel otak.

Tahap selanjutnya adalah kritis, di mana saraf tulang belakang dari donor dan resipien dipotong dengan pisau nano yang sangat tajam dibawah mikroskop operasi, pisau diamond nanoblade ini sangat tajam —di mana ketebalannya diukur dalam satuan angstroms.

Setelah saraf tulang belakang dari donor dan resepien dipotong, tim tersebut memiliki waktu hanya satu jam untuk menyatukan kepala ke tubuh barunya. Termasuk menyambung saraf tulang belakang, pembuluh darah, otot dan lain sebagainya.

Kunci keberhasilan dari transplantasi ini adalah penyatuan kembali saraf spinal, prosedur yang dikenal sebagai SCF (Spinal Cord Fusion, penyatuan saraf spinal), hal ini dicapai dengan menggunakan lem khusus yang terbuat dari polyethylene glycol.

Setelah operasi, Spiridonov, dengan tubuh barunya akan dibiarkan dalam keadaan koma selama 3-4 bulan, di mana selama itu saraf spinal akan menerima stimulasi dari elektroda yang ditanamkan. Stimulasi listrik ini bertujuan untuk mempercepat timbulnya koneksi saraf di tempat yang terputus.

Dr. Canavero memperkirakan dengan prosedur yang benar dan bantuan fisioterapi, pasien akan dapat berjalan kembali dalam waktu satu tahun.

Dr. Canavero menyebutkan dua tantangan utama dalam proyek Heaven-Gemini ini adalah, penyatuan syaraf spinal setelah dipotong dan yang kedua adalah mencegah reaksi penolakan jaringan terhadap kepala yang baru ditransplan.

Spiridonov mengakui bahwa dia pun merasa khawatir mengenai prosedur yang direncanakan pada bulan Desember 2017 mendatang, “Apakah saya takut? Tentu saja”, katanya. “Kalian harus mengerti bahwa saya tidak memiliki banyak pilihan, jika saya tidak mecoba, nasib saya akan sangat menyedihkan. Setiap tahun keadaan saya semakin memburuk”, tambahnya.

Spiridonov menambahkan bahwa dia lebih baik meninggal dalam operasi eksperimental ini demi memperoleh kualitas hidup yang lebih baik, dibandingkan harus terus menderita dalam kondisinya pada saat ini. ” Jika saya harus mati, saya sendirilah yang akan menentukannya”, tuturnya.

Baca Juga:  Transplantasi Kandungan Pertama Di Amerika Mengalami Kegagalan

Meskipun banyak pihak yang skeptis dan menentang prosedur ini, banyak pula yang penuh harapan dan melihat ini sebagai suatu perjalanan yang akan menjadi monumen dalam sejarah ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.

(MM/EP)

medicalnewstoday.com, newsweek.com, theguardian.com, telegraph.co.uk

 

Share.

About Author

Emilio Pandika is an internal medicine physician with a passion and mission to help people get healthy (and happy) with simple positive daily lifestyle changes.

Leave A Reply