Saatnya Lebih Kuat Mendorong HIV Self-Testing

0

Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember kemarin diperingati Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dengan merilis pedoman baru pengujian mandiri untuk meningkatkan akses dan penyerapan diagnosis HIV.

Dikutip dari situs resminya, WHO mengakui bahwa diagnosis HIV mengalami hambatan. Hal itu adalah kendala utama menerapkan rekomendasi dari organisasinya bahwa setiap orang dengan HIV harus mendapatkan terapi antiretroviral (ART) atau mengobati infeksi HIV dengan beberapa obat.

WHO mengungkapkan bahwa lebih dari 18 juta orang dengan HIV saat ini mendapatkan ART. Namun, jumlah yang sama masih tidak dapat mengakses perawatan, dan mayoritas mereka tidak menyadari status HIV-nya sendiri.

Hari ini, 40 persen dari semua orang dengan HIV (atau lebih dari 14 juta orang) masih tidak menyadari status mereka. Banyak dari mereka adalah orang-orang yang memang berisiko tinggi terkena infeksi HIV dan kesulitan mengakses layanan pengujian yang ada.

“Jutaan orang dengan HIV masih kehilangan pengobatan yang menyelamatkan jiwa, yang juga dapat mencegah penularan HIV kepada orang lain,” kata Direktur Jenderal WHO, Dr Margaret Chan.

Dia tegaskan, pengujian HIV secara mandiri harus berlaku bagi lebih banyak orang dan membuat mereka tahu bagaimana untuk mendapatkan layanan pengobatan dan pencegahan.

Dikutip dari berbagai sumber, program yang mendorong pengujian HIV secara mandiri atau dikenal dengan HIV self‑testing (HIVST) sudah dilaksanakan sejak tahun 2013. Program ini memungkinkan orang tanpa berlatabelakang medis dapat melakukan tes HIV sendiri.

Pengujian HIV secara mandiri diri berarti setiap orang dapat menggunakan cairan mulut atau darah yang didapatkan dari menusuk jari tangannya untuk mendapatkan data yang terjamin rahasia.

Hasilnya bisa dikatakan siap dalam waktu 20 menit atau kurang. Tetapi, tes ini tak langsung menentukan seseorang terinfeksi HIV atau tidak. Masih diperlukan tes konfirmasi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. WHO merekomendasikan mereka yang mendapatkan hasil dari tes mandiri untuk melakukan konseling serta mencari rujukan cepat untuk layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan.

Baca Juga:  Perlukah Sirkumsisi?

HIV self-testing adalah cara untuk menjangkau lebih banyak orang dengan HIV yang tidak terdiagnosis dan merupakan langkah maju untuk memberdayakan individu, mendiagnosa orang sebelum mereka menjadi sakit, membawa layanan lebih dekat, dan menciptakan permintaan lebih besar untuk pengujian HIV. Hal ini sangat penting bagi orang-orang yang menghadapi hambatan untuk mengakses layanan yang ada.

Data WHO menyebut, proporsi orang yang menemukan status HIV mereka secara mandiri antara tahun 2005 dan 2015 meningkat dari 12% menjadi 60% secara global. Peningkatan serapan tes HIV di seluruh dunia ini telah menyebabkan lebih dari 80% dari semua orang yang didiagnosis dengan HIV menerima ART.

“Dengan menawarkan HIV self-testing, kita bisa memberdayakan orang untuk mengetahui status HIV mereka sendiri dan juga untuk memberitahukan pasangan mereka dan mendorong mereka untuk diuji juga,” kata Direktur WHO Departemen HIV, Dr Gottfried Hirnschall.

Pengujian HIV secara mandiri akan sangat relevan bagi orang-orang yang merasa sulit untuk mengakses pengujian klinis dan lebih suka self-testing sebagai metode pilihannya.

Ada 23 negara saat ini memiliki kebijakan nasional yang mendukung HIV self-testing. Banyak negara-negara lain sedang mengembangkan kebijakan itu, tetapi implementasi skala luasnya masih terbatas.

WHO mendukung distribusi bebas dari alat pengujian mandiri dan pendekatan lain yang memungkinkan self-test kit untuk dibeli dengan harga yang terjangkau. WHO juga mengklaim bekerja untuk mengurangi biaya lebih lanjut untuk meningkatkan akses pelayanan. Pedoman baru ini bertujuan untuk membantu negara-negara meningkatkan pelaksanaannya.

WHO mendukung tiga negara di Afrika bagian selatan yang sudah memulai implementasi skala besar HIV self-testing melalui proyek STAR UNITAID. Lebih banyak negara sedang mempertimbangkan pendekatan inovatif ini untuk menjangkau mereka yang tertinggal.

(MM/AG)

Share.

About Author

Emilio Pandika is an internal medicine physician with a passion and mission to help people get healthy (and happy) with simple positive daily lifestyle changes.

Leave A Reply