Pilpres Amerika Serikat Dan “Kegilaan” Yang Meluas

0

Tingkat stres warga Amerika Serikat melonjak drastis selama musim kampanye pemilihan presiden 2016.

Kondisi itu makin buruk pasca hari pemungutan suara yang memenangkan konglomerat Partai Republik, Donald Trump.

Ekspresi kemarahan dan kekecewaan begitu mendominasi media-media sosial di kalangan warga AS.

Peningkatan depresi mendapat perhatian serius dari kalangan psikolog. Alison Howard, seorang psikolog yang berbasis di Washington, mengatakan, sejumlah pasien yang ditemuinya terus berbicara tentang pemilu selama berbulan-bulan.

Setelah hasil Pilpres keluar, terdapat lebih banyak ungkapan kesedihan dan ketakutan yang ia temui dari para kliennya. Wajar saja, ia tinggal di sebuah kota yang mana 93 persen pemilihnya mendukung Hillary Clinton.

“Saya belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya,” kata Howard.

Stephen Strosny, seorang psikolog di pinggiran kota Washington, melihat lonjakan stres terkait Pilpres mulai bulan April lalu.

Berangkat dari situ ia menciptakan istilah Election Stress Disorder, yang gejalanya meliputi kecemasan, sulit berkonsentrasi dan gugup, juga penuh kebencian. Ia memperkirakan bahwa hampir setengah pasiennya adalah pendukung Trump.

Ketika musim pemilihan umum semakin dekat, jumlah pasien meningkat. Dan sejak hari pemungutan pada Selasa 8 November 2016, Strosny mengaku telah melayani empat pertemuan darurat dengan pasien yang sangat membutuhkan konsultasi.

“Saya berani bertaruh bahwa konsumsi alkohol sudah naik dalam sepekan terakhir, dan pelanggaran mengemudi yang agresif, di kalangan kedua kubu (Clinton dan Trump),” kata Strosny kepada Reuters (Jumat, 11/11).

Strosny bahkan menemui sepasang pendukung Hillary yang saling menyalahkan menyusul kekalahan jagoannya pada hari pemilihan.

“Sistem saraf pusat tidak mampu membedakan penyebab stres, sehingga orang cenderung menyerang orang-orang terdekat mereka,” kata Strosny.

Para kolumnis di sejumlah media massa pun menawarkan tips kepada orang-orang yang berurusan dengan Election Stress Disorder.
Misalnya majalah Psychology Today yang membeberkan “5 Tips untuk Mengatasi Syok dan Panik Pasca Pemilu”. Dimulai dengan saran untuk “melakukan sesuatu yang produktif.”

“Lakukan sesuatu yang memberi Anda perasaan memiliki kontrol, bahkan itu bisa hal-hal sepele seperti membersihkan freezer di rumah Anda,” kata kolumnis Alice Boyes.

Baca Juga:  Pria Depresi Lebih "Sukses" Untuk Bunuh Diri

Sedangkan kolumnis Majalah Cosmopolitan menawarkan “14 Cara Efektif Mengatasi Kecemasan Pasca Pemilu”. Salah satunya adalah dengan menjauhi media sosial. Setelah itu, mulailah mencari aktivitas yang memuaskan diri sendiri.

“Jika Anda membutuhkan mani-pedi, sehari setelah pemilu adalah hari terbaik untuk mendapatkannya,” saran Jennifer Caudle, seorang psikolog keluarga di New Jersey.

(MM/AG)

Share.

About Author

Emilio Pandika is an internal medicine physician with a passion and mission to help people get healthy (and happy) with simple positive daily lifestyle changes.

Leave A Reply