Penularan HIV Dari Manicure Atau Pedicure, Mungkinkah?

0

Menurut keterangan yang disebutkan oleh CDC (Center for Disease Control and Prevention, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat), virus HIV tidak dapat disebarkan oleh:

Namun dapatkah virus HIV ditularkan melalui tindakan yang dilakukan pada saat menicure atau pedicure?
Virus HIV tidak dapat bertahan lama atau berkembang biak di luar tubuh manusia, pada saat darah dari individu dengan HIV-positif mengering di luar tubuh, demikian pula virus HIV di dalamnya juga akan mati. Oleh karenanya, hanya jika terdapat luka pada kulit atau mukosa, yang terkontaminasi oleh darah segar yang HIV-positif, barulah bisa terjadi penularan infeksi HIV.

Virus HIV akan menjadi sangat lemah pada saat di luar tubuh manusia, virus HIV akan segera mati pada saat berkontak secara langsung dengan udara.

Salon manicure dan pedicure melakukan perawatan jari-jari, kuku tangan dan kaki, dalam perawatan ini banyak tindakan yang dilakukan seperti merendam, memijat, membersihkan serta memotong kuku. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai kesehatan, mulailah timbul pertanyaan mengenai kemungkinan penularan virus HIV melalui tindakan perawatan kuku di salon.

[two_third]

Salon manicure dan pedicure menggunakan banyak peralatan yang akan digunakan secara bergantian untuk setiap pengunjung salon tersebut, untuk mencegah penularan segala bentuk infeksi dan kontaminasi, peralatan tersebut harus selalu dibersihkan, dikeringkan bahkan idealnya disterilisasi sebelum digunakan kembali.

Dengan proses pencucian, pengeringan dan sterilisasi tersebut, jika pun ada darah dari individu yang HIV-positif yang secara tidak sengaja menempel pada peralatan tersebut, kemungkinan besar akan segera mengering, lalu dibersihkan sehingga akan mematikan virus HIV tersebut secara menyeluruh.

Walaupun demikian, pedicure dan manicure tetap berpotensi dapat menularkan infeksi lainnya seperti infeksi jamur atau kutil pada kulit, kasus penularan Hepatitis C, walaupun langka,  juga pernah terjadi.

[/two_third]

[one_third_last]Jadi kemungkinan penularan HIV melalui peralatan manicure dan pedicure teramat sangat kecil atau dapat dikatakan hampir tidak mungkin. [/one_third_last]

Pada tahun 2014, terjadi kasus yang menyebutkan bahwa ada seorang wanita berusia 22 tahun yang dilaporkan mengalami infeksi virus HIV karena menggunakan peralatan manicure dengan sepupunya yang HIV-positif.

Yang menjadi pertanyaan pada waktu itu adalah, bahwa wanita tersebut tidak memiliki faktor resiko untuk terkena virus HIV, namun setelah diteliti lebih dalam ternyata beberapa tahun sebelum ia didiagnosa menderita HIV, ia sering menggunakan peralatan manicure bergantian dengan sepupunya yang belakangan baru diketahui menderita HIV-positif.

Dr Brian Foley dari Los Alamos National Laboratory mengakui bahwa kasus penularan melalui peralatan manicure adalah kejadian yang sangat langka, peristiwa tersebut tidak dapat dijadikan menjadi dasar ketakutan untuk melakukan perawatan kuku di salon ataupun berinteraksi dengan penderita HIV-positif.

Kejadian tersebut dapat menjadi pelajaran untuk berhati-hati pada saat menggunakan peralatan yang berpotensial terkontaminasi oleh darah.

Dr. Foley menambahkan, berbagi peralatan yang berpotensial terkontaminasi dengan darah, seperti jarum suntik, peralatan tattoo atau jarum akupunktur, dapat menularkan virus seperti HIV atau Hepatitis C.

HIV ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui cairan tubuh, seperti darah, cairan sperma, cairan kemaluan dan juga air susu ibu. Virus HIV harus masuk secara langsung ke dalam tubuh, seperti melalui jarum suntik atau dapat juga melalui luka pada kulit atau mukosa. Mukosa adalah bagian kulit yang melapisi mulut, anus, vagina atau ujung penis.

Baca Juga:  Stroke Setelah Kunjungan Ke Salon?

Yang perlu digaris bawahi di sini adalah: Jangan takut untuk melakukan manicure atau pedicure, namun selalu pastikan bahwa peralatan yang akan digunakan telah dicuci, dikeringkan dan disterilkan terlebih dahulu.

Hal-hal yang perlu kita perhatikan pada waktu melakukan manicure atau pedicure adalah:

  • Pilihlah salon yang menggunakan bak stainless steel untuk pedicure, bukan bak dari plastik.
  • Usahakan untuk tidak menggunakan gelembung udara pada bak pedicure. Menurut dr. Jackir Sutera, seorang podiatrist dari New York, jet pembentuk gelembung ini dapat menjadi sarang bakteri dan jamur.
  • Bak dan instrumen yang digunakan, harus benar-benar dibersihkan (idealnya disterilkan) sebelum memulai pedicure. Instrumen yang terbuat dari plastik tidak dapat disterilisasi, jadi sewajarnya tidak dapat digunakan kembali.
  • Kuku harus dipotong sejajar dengan kontur kuku, jangan masuk ke sudut terlalu dalam karena hal ini akan mendorong kuku tumbuh ke dalam, yang berpotensi menyebabkan infeksi. Jangan juga menghilangkan kutikula (lapisan tipis kulit tepat di pangkal kuku), karena kutikula berfungsi untuk melindungi kuku.
  • Penggunaan instrumen tajam harus dilakukan secara berhati-hati untuk menghindari trauma pada kuku atau kulit. Prosedur tidak boleh menyebabkan rasa sakit dan tidak boleh ada luka atau goresan selama prosedur. Jika luka terjadi, segera cuci luka di bawah air bersih yang mengalir lalu diikuti dengan pengobatan dengan anti-septik.
  • Pedicure dan manicure yang terlalu berlebihan tidak hanya dapat menyebabkan bintik-bintik putih pada kuku, tetapi juga akan merusak pelindung kulit, yang akan menyediakan akses untuk kuman yang menyebabkan infeksi.

(MM/EP)

cdc.gov, thehivhelpline.com, clevelandclinic.org, huffingtonpost.com

 

 

Share.

About Author

Emilio Pandika is an internal medicine physician with a passion and mission to help people get healthy (and happy) with simple positive daily lifestyle changes.

Leave A Reply