Jadikan Sinar Matahari Sebagai Kawan Bukan Lawan

0

Mediamedis.com – Telah cukup lama sinar matahari dianggap sebagai musuh dan dihindari dengan berbagai cara. Berbagai kampanye mengenai kanker kulit telah sering kita lihat, hal ini pada akhirnya menyebabkan paranoia yang meluas tentang efek buruk sinar matahari, terutama di kalangan orang tua yang sangat khawatir terhadap kesehatan anak-anak mereka.

Tidak dapat dipungkiri bahwa paparan sinar matahari yang tepat akan sangat bermanfaat, namun jika terlampau banyak malah akan menjadi berbahaya. Paparan yang berlebihan terhadap sinar ultraviolet (UV) dapat menyebabkan efek secara langsung seperti terbakarnya kulit, dan efek yang tidak langsung seperti kanker kulit dan katarak.

Selain radiasi UVA dan UVB yang kita sudah kenal, ternyata terdapat juga sinar UVC, radiasi dari UVC adalah jenis yang paling merusak, namun untungnya radiasi UVC telah disaring oleh atmosfer kita secara menyeluruh dan tidak mencapai permukaan bumi.

Efek Terhadap Kulit

UVA akan mengaktifkan pigmen melanin dalam sel-sel kulit bagian permukaan. Ini menyebabkan kulit menjadi ‘merah’, yang muncul dengan cepat tapi juga akan hilang dengan cepat.

Selanjutnya, UVA juga dapat menembus ke lapisan kulit yang lebih dalam, di mana jaringan bawah kulit dan pembuluh darah akan terpengaruh. Akibatnya kulit secara bertahap akan kehilangan elastisitasnya dan menjadi keriput. Oleh karena itu, dosis besar UVA menyebabkan penuaan dini.

Studi terbaru menunjukan bahwa kemungkinan UVA memicu timbulnya kanker kulit, mekanisme kerusakan UVA ini tidak sepenuhnya dipahami, tetapi salah satu hipotesis yang ada saat ini adalah UVA meningkatkan stres oksidatif dalam sel.

UVB merangsang produksi melanin baru, yang ditandai dengan lonjakan produksi pigmen berwarna gelap yang timbul dalam beberapa hari. Warna kecoklatan ini dapat bertahan relatif lama. UVB juga merangsang sel-sel epidermis (lapisan kulit luar) menjadi tebal. Kedua reaksi tersebut, penggelapan kulit dan penebalan epidermis, adalah bentuk pertahanan tubuh terhadap kerusakan UV lebih lanjut.

Namun, dosis yang lebih tinggi dari UVB akan menyebabkan kulit terbakar yang malah akan meningkatkan kemungkinan timbulnya kanker. Mekanisme yang sesungguhnya bagaimana UVB memicu kanker belum diketahui.

Efek terhadap Mata

Seperti efek pada kulit, berbagai sinar matahari yang masuk menembus mata pada kedalaman yang bervariasi. UVB akan sepenuhnya diserap oleh kornea, sedangkan UVA mampu menembus kornea hingga mencapai lensa. Pada orang dewasa hanya 1% atau kurang dari radiasi UV yang dapat mencapai retina, karena adanya fungsi filter dari kornea dan lensa tersebut.

Vitamin D Bagi Tubuh Kita

Di samping perlunya menghindari kanker, kita tetap membutuhan vitamin D, dan sinar matahari adalah satu-satunya cara yang dapat diandalkan untuk memperolehnya diluar suplemen harian yang sekarang tersedia.

Vitamin D memiliki sejumlah fungsi penting bagi tubuh kita. Vitamin D adalah hormon, yang bertanggung jawab untuk mengatur penyerapan kalsium dan fosfor, dua nutrisi penting untuk kesehatan tulang dan aktivitas syaraf dan otot. Vitamin D juga mengatur pertumbuhan sel, menjaga kesehatan sel-sel dan membantu untuk mencegah sel-sel tersebut berubah menjadi ganas.

Kurangnya vitamin D dikaitkan dengan peningkatan resiko terjadinya berbagai penyakit seperti: diabetes tipe 1 dan 2, multiple sklerosis, rheumatoid arthritis, penyakit kardiovaskular, stroke, depresi, penyakit Alzheimer, schizophrenia (gangguan jiwa), kanker usus bersar dan payudara, influenza, TBC dan masih banyak lainnya.

Kekurangan vitamin D pada wanita hamil telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko preeklamsia, yang dapat menyebabkan komplikasi fatal. Pada wanita hamil, kekurangan vitamin D menyebabkan peningkatan tiga kali persalinan dengan jalan operasi caesar dibandingkan dengan perempuan dengan level vitamin D yang cukup.

Bagaimana Menyiasatinya?

Sonya Lunder, riset analis senior dari Environmental Working Group mengatakan bahwa cara terbaik untuk melindungi diri sendiri dan anak-anak dari radiasi UV yang berbahaya adalah dengan mengenakan pakaian pelindung, pastikan adanya ‘waktu istirahat’ dari sinar matahari (berteduh untuk sementara), dan menghindari paparan pada saat-saat sinar matahari terkuat.

Namun, jika paparan matahari tidak dapat dihindari, tabir surya merupakan suatu keharusan, dan memilih tabir surya yang tepat adalah sangat penting.

Menurut Dr. Martine Alles, direktur dari Developmental Phsiology & Nutrition Danone, waktu terbaik untuk memperoleh manfaat dari sinar matahari adalah dari pukul 09.00 hingga 13.00.

Bagaimana dengan Tabir Surya?

Gunakan tabir surya di kisaran 30-50 SPF. Tabir surya dengan SPF diatas 50 tidak akan memberikan manfaat tambahan dan malah mungkin berbahaya.

Hindari tabir surya yang mengandung Oxybenzone (dapat mengganggu hormon) dan Retinal Palmitat (yang malah mungkin memperkuat efek kerusakan akibat sinar matahari).

CDC merekomendasikan untuk menghindari produk tabir surya yang mengandung nanopartikel.

Tabir surya yang mengandung oksida logam (seperti Titanium atau Zinc) adalah yang paling aman, tetapi kendalanya adalah dari sisi harga.

Pilih tabir surya yang memberikan perlindungan terhadap UVA dan UVB, carilah istilah seperti “broad spectrum” atau “multi spectrum” pada label yang tercantum.

Secara umum, tabir surya harus digunakan (dilapisi) kembali setiap dua jam dan setelah berenang atau aktivitas berat.

Baca Juga:  Awas! Kekurangan Vitamin D Berbahaya Bagi Jantung

Pada umumnya tabir surya dianjurkan untuk anak-anak usia 6 bulan ke atas, sedangkan untuk bayi di bawah 6 bulan, para ahli merekomendasikan menggunakan langkah-langkah perlindungan yang lain, seperti menjaga mereka di tempat teduh, menggunakan topi, menggunakan payung atau mengenakan pakaian pelindung.

(MM/EP)

skincancer.org, washingtonpost.com, webmd.com, who.int, cdc.gov

 

Share.

About Author

Emilio Pandika is an internal medicine physician with a passion and mission to help people get healthy (and happy) with simple positive daily lifestyle changes.

Leave A Reply