dr. Riny Sari Bachtiar, MARS: “Saya Tak Pernah Menyesal”

0

Oleh: Sylvie Tanaga

Sembilan tahun menjadi dokter, jalan hidup dr. Riny Sari Bachtiar, MARS begitu berliku. Berjiwa petualang, gairahnya pada tantangan seolah tak pernah surut. Beragam jenis profesi terkait dunia kedokteran ia jelajahi. Kerap berhadapan dengan aneka pilihan, anak ketiga dari empat bersaudara ini dengan tegas menyatakan tak pernah menyesali setiap keputusannya.

dr. Riny yang kini menjabat sebagai Koordinator Flying Doctors (Dokter Terbang) doctorSHARE ini tidak ragu menuturkan kisahnya secara jujur. Wawancara yang berlangsung di kantor sekretariat doctorSHARE ini dilakukan sehari sebelum ulang tahunnya (29 April 2016).

Nama Lengkap               :   Riny Sari Bachtiar
Tempat, tanggal lahir     :   Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, 30 April 1984

Riwayat Pendidikan

  • SDN No. 9 Sungai Penuh
  • SMPN No. 1 Sungai Penuh
  • SMA Don Bosco, Padang
  • S1 Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan – Tangerang (2001 – 2007)
  • S2 Fakultas Kesehatan Masyarakat Jurusan Kajian Administrasi Rumah Sakit, Universitas Indonesia – Depok (2010 – 2012)


Riwayat Aktivitas 

  • Dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Kec. Kaureh, Jayapura – Papua (April 2009 – Oktober 2009)
  • Pemilik dan Dokter di Apotek dan Klinik Nusantara, Tangerang (Januari 2010 – Desember 2013)
  • Kepala Divisi Kesehatan PT SURE – Yohanes Surya Group (Februari 2012 – September 2013)
  • Koordinator Dokter Terbang/Flying Doctors doctorSHARE (2014 – sekarang)


Jadi dokter itu cita-cita sejak kecil?
Iya. Waktu SD maunya jadi polisi atau dokter. Gue tinggal di kampung yang kehidupannya sederhana dan masyarakatnya kenal satu sama lain. Dokter itu kayaknya “wah” dan bisa nyelamatin orang. Prestisius buat anak kecil. Pas lihat dokter gigi atau dokter umum nyuntik orang kayaknya seru aja. Gue tertantang jadi dokter karena sekolahnya lama dan bisa langsung punya profesi. Dulu malah pernah pengen jadi kasir bank karena di rumah suka disuruh ngitung duit, hahahaha…

Bagaimana proses selama kuliah kedokteran?
Waktu tes masuk, enggak lulus karena gue nggak begitu smart. Targetnya pengen masuk UPH (Universitas Pelita Harapan) tapi waktu itu Fakultas Kedokteran UPH belum dapat ijin dari kementerian.  Koko menyarankan supaya gue masuk dulu saja daripada nganggur setengah tahun. Ya udah, gue ambil teknologi pangan dan waiting list di Fakultas Kedokteran.

Belum satu semester kuliah, Fakultas Kedokteran sudah dibuka. Gue ikut tes. Hasil tes pertama gue menempati ranking ketiga. Gue ambil tes sekali lagi dan dapet ranking pertama sehingga biaya kuliahnya lebih murah. Selisih uang semesternya 10 – 20 juta rupiah per tingkat. Lumayan menghemat karena kebetulan koko masuk kedokteran juga.

Segitu ngotot ya jadi dokter…
Ya. Lumayan panjang perjuangannya, nggak mudah-mudah banget.

Yang dilakukan sesudah lulus kuliah kedokteran?
Dapet rejeki ikut training ke Jepang persis setelah lulus. Motivasi gue bukan jadi ahli bedah saraf tapi untuk jalan-jalan, hahahahahaha…. Maklum, anak kampung mau ke luar negeri. Setelah itu, keluarga menyuruh gue lanjut sekolah ke Manila karena kebetulan ada saudara di situ. Tapi gue malas dan pengen cari duit dulu. Gue coba kerja di Rumah Sakit Siloam dan ternyata….. gajinya kecil. Lebih gede uang jajan gue, hahahahaha….

Saat jadi dokter umum di rumah sakit, gue baru sadar bahwa yang gue pegang itu bukan stetoskop tapi bolpen! Dokter umum hanya periksa sedikit dan harus lapor. Merasa buang-buang waktu, gue kerja dua minggu dan keluar. Di jalur klinisi, kita memang harus jadi dokter spesialis. Kalau enggak, pasti jadi babu yang kerjanya cuma ikut kata spesialis. Nggak keren banget!

Gue pilih lanjutkan sekolah. Gue berangkat ke Manila dan enam bulan kemudian diterima di spesialis obgyn. Tapi ada kegalauan pribadi. Gue bertanya-tanya dalam hati apakah benar-benar mau jadi spesialis obgyn. Gue minta ijin pulang Indonesia sebelum decide. Kalau sudah decide, nggak boleh pulang selama tiga tahun berikutnya. Gue mau liburan sambil menetapkan hati.

Ehhhh… di Facebook ada pembukaan pendaftaran jadi dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap). Waduh! Dulu setelah lulus, gue memang sempet bernazar pergi ke Tanah Papua atau tempat terpencil mana pun di timur Indonesia. Gue iseng daftar PTT, taruhan sama Tuhan. Kalau PTT diterima, jodoh gue berkarya di Indonesia. Kalau enggak, gue balik Filipina dan jadi spesialis obgyn. Dua minggu kemudian, pengumuman keluar. Gue diterima PTT di Kaureh, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Akhirnya gue lepas sekolah spesialis di Filipina dan memilih jadi dokter PTT.

Reaksi keluarga dan rekan-rekan ketika tahu akhirnya memilih PTT dan meninggalkan spesialis?
Menyayangkan. Tapi gue mah cuek aja. Hidup ya hidup gue…. Nggak nyesel sama sekali.

Apa pelajaran hidup paling berharga selama menjalani PTT di Kaureh?
Ini kali pertama gue ke Papua. Untuk ke sana harus naik bus yang jelek banget. Isinya penuh, warganya pada bawa ayam ke dalam bus. Lorong-lorongnya fulllllllll banget. Gue belajar tentang kesederhanaan.  Excited juga sih untuk melihat sesuatu yang baru. Selama PTT, kita juga diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Beda sekali dengan Rumah Sakit dimana kita cuma jadi perpanjangan tangan dokter spesialis dan pasien.

Pernah juga jam dua pagi digedor karena ada warga mau lahiran. “Dokterrr…. tolong ke rumah!” Di sana kan jalannya becek dan gelap. Nggak ada lampu jalan, harus pakai senter. Syukur kalau ada motor. Kalau enggak, ya harus jalan kaki. Sampai di sana, dia udah ngeden-ngeden. Nggak steril. Alasnya cuma kain karena mereka nggak punya kasur. Kita bantu lahiran dengan alat-alat seadanya.

Pengalaman PTT juga melunturkan persepsi terhadap orang Papua. Papua kan image-nya seperti Afrika yang miskin, serem-serem, jahat-jahat, bisa bunuh orang, bisa ilmu hitam, dan segala macam. Ternyata enggak tuh. Biasa saja. Gue jadi belajar menerima kondisi orang tanpa judging.

Selesai mengabdi sebagai dokter PTT dengan segala pengalaman menariknya, apa yang terpikir dalam benak?
Gue buka klinik di Karawaci. Mau cari duit ceritanya. Enam bulan kemudian, semua udah settle. Lalu gue iseng ambil S2 jurusan Kajian Administrasi Rumah Sakit (KARS) di Universitas Indonesia karena pengen tambah gelar, sekalian jalankan klinik.

Jadi kuliah S2 untuk dapet gelar?
Iya. Waktu pertama masuk, dosen nanya apa motivasinya. Semua jawab ala Pancasila. Gue jawabnya “supaya dapet gelar, Pak!” Bapaknya ketawa. “Nah iniii… Nggak usah munafik. Kalian kuliah emang buat dapat gelar!” Hahaha… Gue jujur aja. Kalau ditanya suka manajemen atau enggak, not at all.

Setelah itu, mengapa akhirnya memilih bergabung dengan Yohanes Surya?
Mungkin jodoh sama orang Papua. Ada tawaran teman yang kebetulan kerja di sana. Ada 900 sampai 1.000 anak-anak dari seluruh kabupaten di Papua, SD sampai kuliah. Mereka tinggal di asrama. Yayasan butuh dokter untuk urus mereka. Gue awalnya mikir bisa jadi dokter di sana pagi, sorenya urus klinik sendiri. Eh, malah kecemplung. Mereka makin besar dan akhirnya butuh divisi sendiri yang not only a clinic. Gue jadi fulltime karena mereka butuh 24 jam.

Baca Juga:  Penghormatan Dunia Untuk Dokter Zhao Ju

Tugasnya termasuk terbang-terbang ke daerah pedalaman Papua?
Iya. Dulu mereka nggak pakai seleksi medical check up. Kita harus pergi untuk mengetahui dulu kondisi kesehatan mereka sebelum ke Jakarta. Banyak banget yang sakit ketika sampai di Jakarta dan ini berbahaya buat para penghuni asrama lainnya. Mereka bisa tertular.

Pengalaman paling menarik ketika berkarya di Yohanes Surya?
Di situlah gue menemukan hobi baru yaitu mendaki gunung. Waktu daki gunung , gue bertemu grup-grup pendaki. Mereka menganggap gue cukup gila. Suatu hari, ada teman pendaki yang memberitahu soal Dokter Lie.

“Dok, lu nonton nggak dokter Lie?”
“Siapa dokter Lie?”
“Orang gila, dokter gila.”
“Oh iyeeee…. emang sekarang banyak dokter gila.”

Saat itu, beberapa dokter memang muncul ke permukaan dengan berbagai inovasinya. Gue nggak terlalu perhatikan. Cuma tahu ada dokter yang mengumpulkan sampah, memberikan pelayanan, dan sebagainya. Belakangan, gue keluar dari Yohanes Surya karena mau pulang Kerinci.

Waktu gue putar haluan kembali ke Jakarta, dia mengontak lagi dan bertanya kenapa gue nggak bareng dokter Lie aja. Saat itu gue malas caritahu. Nggak gitu tertariklah. Gue malah tertarik Sokola Rimba. Mereka butuh tenaga medis. Tapi pas gue kirim email, mereka nggak bales.

Yang terjadi setelahnya?
Gue punya tiga pilihan. Daftar PTT ke Nusa Tenggara Timur (NTT), gabung dengan Yayasan Budha Tzu Chi, atau kembali ke Siloam yang profit oriented. Pemerintah, swasta bidang sosial, atau swasta profit. Gue buka tiga jalan ini karena pengen menantang diri. Ternyata, ketiga jalan ini terbuka! Gue pun berdoa. Yang paling cepet dan rasanya paling adem, itulah yang akan gue ambil.

Gue diterima PTT di NTT. Yayasan Tsu Chi memanggil tapi mereka masih proses pembangunan. Siloam juga memanggil, tapi gue tanya, “lu berani gaji gue berapa?” Hahahaha…Teman daki gue ngotot. Dia memberi link You Tube dokter Lie. Setelah nonton rasanya…. wah! Boleh juga nih.

Gue iseng kirim CV ke doctorSHARE. Malam kirim, besok paginya sudah direspon. Gue dipanggil interview. Entah kenapa, klop aja rasanya. Padahal kalau dipikir-pikir, gaji PTT cukup besar karena ada insentif daerah. Di doctorSHARE, targetnya bukan duit tapi untuk berkarya. Rasanya banyak yang bisa gue kerjakan di doctorSHARE. Akhirnya gue gugurin PTT dan masuk doctorSHARE bulan April 2014. Pokoknya pengumuman-pengumuman ini “muncrat” semua dalam seminggu.

Di doctorSHARE akhirnya jadi Koordinator Flying Doctors (Dokter Terbang) yang memberi pelayanan medis di daerah sangat terpencil…
Di doctorSHARE, awalnya gue cuma jadi pembantu umum sama tukang beresin gudang, hahahaha… Waktu itu, Flying Doctors baru terbentuk dan gue “ditembak” untuk pegang program ini. Kerjanya adalah mengkoordinir semua kebutuhan pelayanan medis dari A sampai Z. Mau pelayanan ke mana? Mengapa harus ke sana? Lalu cari relawan yang mau ke sana. Ada survei, perencanaan, pembentukan tim, pelaksanaan, dan pelaporan.

Daerah pelayanan mana saja yang sudah dijelajahi oleh tim Flying Doctors?
Tahun 2015 sudah ke Distrik Sugapa, Gagemba, dan Ugimba di Kabupaten Intan Jaya, daerah pegunungan tengah Papua. Tahun ini sudah melayani di Kabupaten Mappi. Berikutnya akan ke Wandai di Kabupaten Intan Jaya, lalu ke Lanny Jaya dan distrik lainnya di Kabupaten Intan Jaya.

Menemukan pengalaman berbeda selama Flying Doctors?
Beda banget. Ketika PTT di Kaureh, konturnya bukan daerah gunung tapi bukit yang posisinya masih dekat dengan Jayapura. Ketika pelayanan medis dengan Rumah Sakit Apung, sasarannya adalah masyarakat pesisir. Sejak masih di Yohanes Surya, secara teori gue sudah tahu bahwa masyarakat pesisir dan gunung itu sangat kontras beda permasalahannya.

Tapi dulu gue belum dapat kesempatan ke gunung. Ketika Flying Doctors, mata gue makin terbuka. Oh, seperti ini lho ternyata… Ke sana saja ribetnya setengah mati. Pertumbuhan ekonominya kontras banget sama pesisir. Akses-akses pelayanan publik seperti Puskesmas juga nggak sama. Sesulit-sulitnya pesisir, gunung lebih sulit dan lebih menderita. Ternyata memang nggak gampang.

Perjalanan Flying Doctors terbilang menantang maut. Mengapa mau menjalaninya?
Menantang maut ya? Menurut gue sih enggak. Naik pesawat gede atau kecil sama saja resikonya.

Pola pikir apa yang kemudian berkembang selama menjadi relawan di dunia sosial?
Saat mau membantu orang lain, kita harus sudah selesai dengan ke-aku-an kita sendiri. Kita nggak bisa lagi berkata, “eh, gua nggak bisa pergi karena harus cari duit dulu.” Kita harus melayani sepenuh hati. Di sisi lain, gue belajar bahwa hidup juga perlu keseimbangan. Keluarga butuh perhatian. Gue akhirnya sadar selama ini terlalu fokus untuk Flying Doctors tapi menomor duakan keluarga.
Apa yang dilakukan untuk menyeimbangkannya?
Mencoba mengatur agar dua-duanya bisa jalan berbarengan. Kita harus hidup juga, tapi bukan untuk masalah materi lho ya…

Pelajaran penting lainnya yang dipetik?
Tuhan yang memberi materi. Kita nggak perlu khawatir. Yang penting jalani segala sesuatunya dengan kasih. Kalau mau beli barang, biasanya kan harus ada duit dulu. Mau lakukan sesuatu pakai otak dulu. Planning perlu, tapi iman juga perlu. Di doctorSHARE, gue belajar tentang iman.

Pandangan tentang diri sendiri dalam kilas balik hidup selama 32 tahun?
Fun! Gue nggak pernah merasa menyesal. Banyak orang menyayangkan. Menurut mereka, gue punya banyak potensi. Tapi gue sudah melakukan apa yang ingin dan mampu gue lakukan. Tidak pernah ada penyesalan untuk semua keputusan yang telah gue ambil hingga detik ini.

Apa yang akan dilakukan ke depan?
Yang pasti, gue akan selalu berkarya dan berguna untuk orang banyak. Bentuknya bisa macam-macam tapi yang penting adalah tidak perlu money oriented untuk segala sesuatunya.

Pesan bagi sesama dokter di Indonesia?
Sudah sembilan tahun gue jadi dokter. Selama sembilan tahun itu, gue sudah mengalami berbagai hal mulai dari kerja untuk nyari duit, juga untuk melayani. Ternyata tidak ada ruginya memberikan pelayanan sosial. Ini pekerjaan yang menarik. Jangan takut nggak balik modal.

Ketika menjadi dokter, kita pasti punya visi masing-masing. Ada juga yang pengen jadi dokter karena tertarik jadi spesialis. Ya nggak apa-apa. Kejar saja apa yang pengen dikejar sesuai cita-cita. Tapi kalau memang tertarik terjun di bidang sosial, kita bisa hidup kok. Be yourself aja.

Sumber: doctorSHARE.com

Share.

About Author

Emilio Pandika is an internal medicine physician with a passion and mission to help people get healthy (and happy) with simple positive daily lifestyle changes.

Leave A Reply