dr. Herliana Elizabeth Yusuf: “Tilik Kembali Tujuan Awal Jadi Dokter”

0
Pengalaman menyaksikan paman yang diterlantarkan dalam kondisi darurat di Rumah Sakit membuat Herliana (Herli) kecil terhenyak. Sejak itu, ia bertekad jadi dokter yang sungguh-sungguh melayani masyarakat tak mampu. Tak mudah buat mewujudkan niat mulia ini. Pengaruh lingkungan, hasrat cepat sukses, dan aneka kekhawatiran jadi godaan yang senantiasa mengintai.
Pengalaman bersama doctorSHARE dan keputusan menjadi dokter internship di Wamena menjadi titik penting yang mengembalikan kesadarannya. Lagi dan lagi, Herli selalu berupaya mengingatkan diri pada cita-cita masa kecilnya: menjadi seorang dokter yang baik, fokus pada masyarakat kecil. Inilah kunci yang membuat Herli mampu mempertahankan idealismenya hingga detik ini.
Cita-cita awal memang ingin jadi dokter?
Sejak SD, aku memang ingin menjadi seorang dokter, tapi dokter yang baik. Bayangan aku dari kecil memang bener-bener pengin nolong orang yang memerlukan bantuanku sebagai dokter, tapi lebih fokus ke orang-orang yang benar-bener nggak mampu. Menjadi dokter yang baik dalam hal ini maksudnya benar-benar melayani, nggak terpengaruh dengan gaji.
Mengapa terdorong ingin jadi dokter untuk menolong orang tidak mampu?
Ada suatu peristiwa yang menimpa om yang sekarang sudah almarhum. Waktu itu dia masuk ke rumah sakit dalam keadaan darurat. Kalau nggak salah, dia kesakitan di bagian ulu hati. Dia memang punya riwayat maag. Yang mengantar ke rumah sakit adalah aku dan papa. Sampai di rumah sakit, aku cuma tahu perawatnya nyuruh kita urus administrasi dulu baru om ditangani.
Sebagai anak kecil, hal kayak gitu membuat aku bertanya-tanya. Kenapa sih harus urus administrasi dulu? Kenapa pasien nggak langsung ditangani? Dari situ, aku mulai berpikir, ah, nanti kalau sudah besar bener-bener pengin fokus nolong orangnya dulu. Administrasi belakangan. Ini salah satu peristiwa yang jadi titik balik aku ingin jadi dokter yang baik.
Seiring waktu, aku memang tertarik juga dengan pelajaran biologi, tapi bukan biologi hewan dan tumbuhan. Tertariknya tubuh manusia. Sampai SMP, aku tetap mau jadi dokter. SMA mulai mikir karena orang-orang bilang jadi dokter itu mahal dan sekolahnya susah. Lama pula. Teman-temanku mikir kalau sekolahnya lama dan biayanya mahal, balik modalnya butuh berapa tahun?
Tapi keinginan jadi dokter makin kuat. Kalau orang bilang susah, ya lihat aja nanti. Pandangan orang-orang sekitar nggak mempengaruhi keputusanku untuk jadi dokter. Mikirnya lebih ke soal biaya, kalau biayanya gedē gimana ya? Ah, sudahlah. Toh papa mama juga mendukung. Aku jadi lebih lega.
Kamu lahir di Tangerang dan sempat tinggal di Papua Barat? 
Iya. Aku lahir di Tangerang tahun 1991. Kalau nggak salah, aku ke Sorong tahun 1993 karena orang tua mulai buka usaha computer di situ. Aku tinggal di Sorong waktu TK, SD, dan SMP. Nah, waktu SMP kelas 2 semester 2, aku balik lagi Tangerang dan meneruskan ke SMPK Penabur Gading Serpong karena usaha kelurga di Sorong sudah kurang berkembang. Setelah menamatkan SMP, aku lanjut di SMAK BPK Penabur Gading Serpong, ketika itulah Universitas Pelita Harapan (UPH) gencar promosi ke sekolah karena lokasi kampusnya dekat.
Bulan Oktober, aku sudah beli formulir dan mendaftar untuk jurusan kedokteran gelombang pertama, tapi ternyata tidak perlu tes karena nilai rapot di atas 7 semua. Masalahnya waktu itu belum Ujian Nasional, sedangkan pembayaran pertama harus segera dilunasi. Aku nggak terlalu cerita ke papa dan mama, jadi formulir itu hangus.
Bulan Desember setelah acara Natal sekolah, mama mengompori aku buat masuk UPH. Ahirnya aku beli formulir lagi, tapi ikut gelombang daerah supaya lebih murah. Aku sampai sengaja ke Semarang bertiga diantar papa mama untuk ikut tes. Awalnya agak takut karena kondisi keuangan papa biasa aja, bukan yang berlebih banget sampe sudah mikir investasi buat pendidikan anak.
Aku cuma berdoa kalau misal pembayaran pertama selesai, berarti memang rencana Tuhan aku masuk FK UPH. Puji Tuhan semua lancar sampai lulus, lulusnya pun tepat waktu.
Apa yang terpikir dalam benak sesudah lulus kuliah?
Saat itu, sistem pendidikan kedokteran di Indonesia sedang banyak perubahan. Habis co-ass harus UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia). Sudah lulus UKDI, ternyata ada kewajiban baru harus internship. Waktu itu 2008 sedangkan internship diwajibkan mulai angkatan 2007. Aih, tambah satu tahun lagi, kayaknya nggak selesai-selesai. Tapi ya sudah, dijalanin aja…
Sedikit banyak, aku jadi terpengaruh sama teman-teman. Mereka berpikir sesudah lulus co-ass, ya internship. Terus mumpung masih muda, buru-buru ambil spesialis aja langsung. Dulu sih targetnya biar umur 30 tahun tuh udah spesialis. Married di atas 30 tahun ya sudah, daripada nanti udah married terus baru mau ambil spesialis tuh kayaknya lebih susah.
Bersyukurnya, di kampus ada persekutuan. Suatu hari, yang bicara di persekutuan itu dokter syaraf. Dia memaparkan kondisi mahasiswa kedokteran yang mengalami tiga perubahan pola pikir. Ketika masih mahasiswa, pemikiran masih idealis banget, persis kayak cita-cita kecilku yaitu pengin bantu orang yang tidak mampu. Mulai kuliah dan co-ass, tujuannya mulai berubah: pengin cepat-cepat selesai. Setelah menjadi dokter umum, berubah lagi, pengin cepat-cepat jadi spesialis lalu mencari uang sebanyak-banyaknya.
Memang itu yang aku alami. Aduh! Co-ass kok kayak gini ya… Tinggal berapa stase lagi nih selesai? Co-assitu kan bagian paling menderita dalam perjalanan menjadi seorang dokter karena menjadi seperti kēsētnya rumah sakit. Perubahan pola pikir kedua ini juga aku rasain.
Lulus co-ass tahun 2014, aku mulai tahu tentang doctorSHARE dari tayangan Kick Andy. Aku sampai datang ke kantor doctorSHARE dan ternyata memang ada jalan untuk masuk ke sini. Aku tertarik karena doctorSHARE seperti mengembalikan aku lagi ke idealisme masa kecil, mengingatkan aku bahwa tujuan awal menjadi dokter tuh untuk jadi dokter yang baik. Tuhan memberi jalan. Aku bertemu sekelompok orang yang visinya sama-sama ingin membantu masyarakat kurang mampu.
Beberapa kali ikut pelayanan medis bareng doctorSHARE, mataku makin terbuka soal kondisi masyarakat yang kurang mampu dan bagaimana kondisi masyarakat pinggiran. Aku jadi semakin yakin dengan cita-cita awalku jadi dokter. Selain itu, aku terinspirasi ketika menonton film Patch Adams yang bikin klinik di atas pegunungan dan berfokus pada kualitas hidup pasien. Itu juga yang jadi mimpi aku, fokus pada meningkatkan kualitas hidup masyarakat terpinggirkan di daerah yang minim akses dan prasarana.
Cerita awal memilih jadi dokter internship di Wamena?
Awalnya, aku bingung mau pilih lokasi internship. Apa di zona nyaman saja dekat rumah ya? Ngapain harus jauh-jauh dan susah-susah? Sempat kepikiran kayak gitu. Tapi pengalaman selama di doctorSHARE membuat semangat bertualang aku lebih muncul, aku pengin ke tempat baru. Tapi tadinya tidak terlalu ingin di Papua karena aku sudah pernah besar 10 tahun di Papua Barat.
Di sisi lain, aku berdoa supaya Tuhan pilihkan yang terbaik. Waktu pemilihan lokasi hari pertama, aku lagi pelayanan medis bareng doctorSHARE di Bintuni. Aku pinjam komputer dan WiFi sebuah perusahaan migas di sana, tapi ternyata website-nya crash, yang ternyata dialami juga oleh banyak orang. Hari kedua, aku di kapal dan udah nggak mencoba internet lagi. Aku cuma minta tolong teman pilihin. Dia ingin ke Jayapura. Ya sudah aku ikut aja, tidak apa-apa Papua, yang penting ada teman.
Tapi ternyata kuota untuk Jayapura sudah penuh. Kuota Papua yang tersisa adalah Wamena. Wamena? Ya sudah, Wamena saja. Temanku tanya, “yakin nih Wamena?” Aku menjawabnya antara sadar dan tidak, hehehehe…. Ternyata diterima! Perasaanku campur aduk, pengin nangis. Nggak kebayang soal Wamena dan harus setahun sana. Tapi aku ingat bahwa aku sudah berdoa supaya Tuhan memilihkan tempat yang terbaik. Belakangan baru tahu Wamena itu pegunungan.
Ceritakan pengalaman awal jadi dokter internship di Wamena…
Sebetulnya, Wamena punya RSUD dan masih ada akses pesawat yang jadwalnya rutin. Nggak ada penyesalan, aku enjoy aja jalanin bareng 17 dokter lainnya. Hanya minggu pertama saja yang agak chaos karena ternyata Wamena baru pertama kalinya menerima dokter-dokter internship. Mereka belum siap, walaupun Kepala Dinas awalnya berjanji menyediakan rumah dan insentif tambahan.
Karena belum siap dengan kehadiran sekelompok dokter, akhirnya kami tinggal di hotel, itu pun diperpanjang sehari karena belum mendapat rumah tinggal. Orang-orang di sana kayak baru sibuk bergerak mencari rumah. Tadinya kita mau dikasih tinggal di sebelah rumah sakit, sebuah bangunan lama berbentuk kelas-kelas sekolah. Tapi atapnya sudah lubang-lubang dan WC-nya penuh kotoran.
Terlunta-lunta tanpa kepastian soal tempat tinggal, akhirnya kita dapat satu rumah yang bisa ditinggali setahun, tapi ongkos sewanya Rp 90 juta per tahun. Kita bingung dan bertanya-tanya apakah biayanya dibayari atau tanggung sendiri. Ya sudah, kami semua akhirnya pindah ke sana dalam kondisi masih bingung dengan pembayaran. Ternyata, insentif daerah kami dipotong untuk ongkos sewa rumah tersebut.
Kalau boleh tahu, berapa “upah” dan insentif dari Pemerintah Daerah? 
Upah Rp 2,5 juta dipotong pajak, jadinya Rp 2,47 juta sekian dengan biaya hidup di Wamena yang mahal-mahal. Sempat stress juga sih karena inginnya nggak minta orang tua lagi. Ternyata bisa saja dijalani. Teman-teman patungan untuk belanja makan dan bikin jadwal masak, jadi bisa lebih hemat. Ternyata cukup. Bulan kesekian, kami dapat insentif Pemda Rp 1,5 juta, tapi dipotong uang kontrakan yang sebulannya Rp 500.000-an/perorang, dibayar 6 bulan di awal.
Masalah kesehatan yang paling menonjol di Wamena dari hasil pengamatan?
Anak-anak beringus, batuk pilek, dan keluar cairan di telinga. Itu udah umum banget di Papua. Mereka juga banyak yang kena bronchopneumonia karena tinggal di honai yang berasap atau kena asap rokok. Paru-paru sesak, suaranya kasar, dan banyak yang meninggal karena penyakit ini.
Yang berobat pasti itu-itu saja pasiennya, dengan penyakit yang itu-itu juga. Mereka sembuh setelah diberi obat, tapi ternyata balik lagi dengan kasus yang sama. Kompleks. Kalau aku lihat, permasalahannya nggak cuma satu faktor. Ada masalah pendidikan dan cara hidup. Mereka tinggal di honai yang penuh asap, bapak-bapaknya juga merokok di depan anak-anak. Multifaktor.
Contoh kasus yang paling berkesan selama bertugas?
Aku beberapa kali sempat menangani anak-anak yang sesak napas karena bronchopneumonia, tapi fasilitas RSUD sudah mentok sehingga tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Biasanya, ini terjadi pada anak di bawah satu tahun. Mereka batuk parah, berlendir, dan sangat sesak sehingga butuh oksigen. Masalahnya, waktu itu RSUD masih belum punya oksigen murni dalam tabung.
Yang ada hanya oksigen konsentrat dari evaporator. Itu hanya mesin saja. Selang oksigennya kurang maksimal dan anginnya kurang. Observasi di UGD sudah mentok. Ini tak hanya terjadi pada satu kasus, tapi seringkali terjadi.
Contohnya, aku pernah lihat seorang anak yang napasnya makin lama makin sesak. Tulang-tulang dadanya sampai kelihatan naik turun hebat buat menarik napas. Oksigen sudah terpasang tapi anaknya masih megap-megap. Mamanya masih berusaha mengganti baju anaknya yang sedang megap-megap. Aku sempat bantuin dan pedih dalam hati karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Si anak makin lemas dan kemudian meninggal. Orang tuanya menangis.
Dokter PTT meminta ijin untuk melakukan RJP (Resusitasi Paru Jantung), tapi ditolak bapaknya. “Sudah dokter, nggak usah. Memang sudah kehendak Tuhan anak ini umurnya segini aja. Manusia bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Memang sudah jalannya Tuhan anak ini dipanggil.”
Mereka pasrah. Mereka jadi cepat menyerah dengan keadaan. Banyak sekali penyakit yang seharusnya bisa tertolong jika berlokasi di kota-kota besar namun di sini tidak ada pilihan. Kondisi semacam ini yang akhirnya membuat mereka makin lama makin pasrah. Kalau sakit ya sudah, sudah kehendak Tuhan. Di sana, aku takut kalau aku sendiri jadi malas berusaha dan ikut-ikutan pasrah.
Pendidikan mereka sangat terbatas. Mereka jarang protes, “kenapa sih dia bisa meninggal?” Ketika dokternya bilang, “Bapak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain”, mereka terima saja. Kalau ada yang meninggal karena kondisi sesak, mereka pikir sudah jalannya. Di sisi lain, berusaha lebih pun memang sangat sulit dilakukan mengingat kondisi fasilitas yang minim.
Seberapa luas wilayah kerja yang menjadi area tanggung jawab?
Dokter iInternship ditempatkan di sebuah RSUD dengan dua jenis rotasi: UGD dan bangsal. Kami diperbolehkan menangani pasien, tapi di bawah supervisi dokter pembimbing dan dokter PTT. Selain itu, kami juga ada rotasi puskesmas, tapi hanya untuk puskesmas pilihan. Kami boleh memberi resep, tapi tetap di bawah supervisi. Demikian juga dengan tindakan minor. Di sana ada dua puskesmas, Wamena Kota dan Hom Hom. Yang lainnya adalah Puskesmas Pembantu.
Pelajaran hidup paling berharga yang dipetik dari masa internship?
Di sana, aku tinggal berlima belas dalam satu rumah. Banyak sekali pelajaran yang didapat dari situ, terutama soal bagaimana hidup dengan orang lain yang beda kampus, beda suku, beda agama, dan beda jenis kelamin. Aku belajar memahami watak orang, dan hidup berdampingan tanpa masalah.
Apakah internship merupakan pengalaman pertama bersentuhan dengan masyarakat Papua?
Betul. Baru saat internship inilah aku pertama kali ke Papua. Sebelumnya, aku tinggal di Papua Barat dan pernah pelayanan medis juga bersama doctorSHARE di Bintuni, Papua Barat. Persentuhan dengan warga asli Papua memang baru aku alami ketika internship ini. Aku jadi bisa melihat masyarakat Papua dari sudut pandang yang berbeda.
Sudut pandang berbeda yang seperti apa?
Selama ini, masyarakat Papua dianggap keras, kasar, dan terbelakang. Miskin sih memang iya. Tapi ketika internship ini aku jadi belajar lebih memahami segala sesuatunya dari sisi mereka sendiri.
Mereka punya tanah dan berhadapan dengan banyaknya pendatang, tapi pendatang itu yang lebih sukses. Masyarakat Papua sendiri malah jadi semakin terpinggirkan. Dari hasil pengamatanku, memang hampir 100% pemilik toko dan kios adalah para pendatang. Masyarakat Papua paling cuma jual pinang, itu juga di emperan kios-kios itu.
Banyak kasus dan cerita yang aku dengar juga dari orang-orang yang aku kenal, beberapa di antaranya aktivis pembela Hak Asasi Manusia. Pandangan aku jadi makin terbuka, makin luas. Selama ini kan aku tahu luarnya doang, misalnya kenapa sih OPM mau merdeka? Pas aku lihat sendiri kenyataannya dan membaca banyak kasus dari buku, ternyata mereka memang dianak tirikan. Aku jadi melihat dari sudut pandang mereka juga. Kupikir-pikir iya juga. Tanahnya tanah mereka. Kekayaan alam juga milik mereka. Tapi mereka nggak menikmati semua itu.
Cerita soal berdirinya Yayasan Bakti Kasih Papua?
Ide berdirinya yayasan itu berawal dari rencana kegiatan bakti sosial atas nama dokter-dokter internship. Ternyata yang lain oke. Kami pun sempat dua kali melaksanakan bakti sosial dengan nama “Bakti Kasih Untuk Papua”.
Mendekati akhir masa internship, mulai mikir gimana ya kelanjutan gerakan ini. Kita udah punya rekening dengan sisa dana Rp 4 juta. Bisa saja rekeningnya ditutup dan dana ditarik untuk dibelanjakan barang buat Panti dan sejenisnya. Kebetulan aku yang pegang media sosialnya, Fanspage Facebook-nya. Setelah kegiatan selesai, aku kok lihat makin banyak jumlah likers-nya.
Jadi terpikir sayang juga kalau dibubarkan begitu saja. Bagaimana kalau dilanjutkan? Memang tidak tahu ke depannya akan seperti apa, tapi aku udah terlanjur sayang sama orang-orang Papua. Ternyata seorang temanku juga setuju. Tadinya hanya kami berdua, lalu bertambah menjadi empat orang sehingga singkat cerita muncul kesepakatan untuk lebih menyeriusi gerakan ini dalam wadah organisasi dengan nama Yayasan Bakti Kasih Papua. SK Menterinya keluar bulan Mei 2016.
Kami realistis dan tidak ekspektasi macam-macam, mau coba jalani saja dulu. Kami sadar bahwa masing-masing anggotanya masih punya fokus yang berbeda-beda. Saat ini, aku juga bertanggung jawab sebagai asisten koordinator Flying Doctors doctorSHARE. Paling tidak, kami mau coba komitmen dulu untuk tiga tahun – walaupun jangka waktu yayasan ini sebenarnya tidak terhingga.
Sudah tidak terpikir untuk ambil spesialis?
Belum tahu tapi ternyata pengalaman internship di Papua dan pelayanan medis bersama doctorSHARE membuat aku lebih tertarik untuk fokus ke masyarakat, lebih ke komunitas. Bayangan aku kalau ambil spesialis itu nantinya akan bekerja di Rumah Sakit dan lebih menunggu pasien datang. Aku ingin lebih dari itu, bukan cuma mengobati tapi juga mendorong masyarakat menjadi lebih baik.
Sejak bergabung bersama doctorSHARE, aku jadi sadar bahwa sebenarnya akar permasalahan kesehatan itu banyak. Nggak cuma menerima pasien sakit, operasi, lalu selesai. Sekarang aku jadi lebih tertarik membangun masyarakat dan ambil public health. Tapi sejujurnya belum tahu juga karena fokus prioritas untuk satu setengah tahun ke depan adalah doctorSHARE. Aku juga membayangkan apakah yayasanku bisa bertahan sampai aku tua atau tidak, bukan lagi memikirkan ambil spesialis lalu ambil sub spesialis dan seterusnya. Kayaknya semakin jauh dari itu sih…
Mengapa akhirnya menerima tawaran sebagai asisten koordinator Flying Doctors doctorSHARE?
Awalnya karena ketertarikan dengan Papua karena selama ini memang Flying Doctors banyak berkiprah di Papua. Selama di Wamena, aku juga sudah terbiasa bergaul dengan orang-orang Papua, walaupun tentu Flying Doctors ke depan inginnya tidak hanya menjangkau Papua.
Bayangan soal Program Flying Doctors doctorSHARE ke depan?
Flying Doctors makin menjangkau masyarakat di wilayah terpencil yang nggak punya akses, terutama yang nggak bisa dijangkau oleh pelayanan RSA (Rumah Sakit Apung). Bayangan aku, Flying Doctors akan menjangkau seluruh Indonesia dengan karakteristik seperti ini, bukan terbatas hanya Papua. Kegiatan yang selama ini sudah dilakukan adalah pengobatan umum, penyuluhan, dan bedah minor.
Ke depannya, ingin sekali mengembangkan kerjasama, misalnya dengan dokter yang ada di sana. Jika punya hati dan visi yang sama, kita dapat bekerjasama sehingga kalau ia kesulitan obat, kita bisa suplai obat dan pergi berkunjung, misalnya minimal tiga bulan sekali. Pengobatan umum sehari-hari bisa ditangani sendiri oleh sang dokter. Ketika kita datang, bisa membawa tenaga spesialis.
Alasan banyak menuangkan pengalaman dalam bentuk tulisan?
Sejak kecil, aku tipe pendiam. Terlalu banyak yang aku pendam, tapi rasanya ingin kasitahu juga soal pengalaman dan pemikiranku. Kata teman-teman, aku kurang ekspresi. Ya, aku pengin menuangkan ekspresi itu dalam bentuk tulisan. Keseharianku nggak bawel dan aku pengin bercerita ke orang dengan cara menulis. Intinya, aku ingin berbagi lewat tulisan.
Pesan untuk rekan sesama dokter dan pemerintah?
Untuk teman-teman dokter, gali kembali tujuan kalian sebelum menjadi dokter. Pasti ada. Kadang-kadang, kita lupa dengan tujuan awal menjadi dokter karena sudah terlalu asyik dengan gaji atau posisi saat ini – atau mungkin terlalu stress dengan tuntutan-tuntutan masa kini. Tilik kembali kenapa dulu kalian ingin jadi dokter. Tuhan pasti sudah merencanakan sesuatu.
Untuk pemerintah, masih ada harapan untuk membuat Indonesia yang lebih baik. Lihat kembali dengan jelas seperti apa kondisi masyarakat di lapangan, apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Gali lagi karena apa yang baik bagi pemerintah belum tentu sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat. Kenali lebih jauh lagi kondisi masyarakat terpencil, terutama mereka yang suaranya tidak sampai ke tingkat pusat. Mereka harus lebih didengar.
Oleh: Sylvie Tanaga
Nama Lengkap: Herliana Elizabeth Yusuf
Tempat, Tanggal lahir: Tangerang, 8 Maret 1991
 
Riwayat Pendidikan
SD YPPKK Moria Sorong (1996-2002)
SMP YPPK Don Bosco Sorong (2002-2003)
SMPK BPK Penabur Gading Serpong (2003-2005)
SMAK BPK Penabur Gading Serpong (2005-2008)
Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (2008 – 2014)
Pengalaman 
Relawan doctorSHARE (2014 – saat ini)
Asisten Koordinator Dokter Terbang doctorSHARE (2016)
Dokter Internship di RSUD Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua (Mei 2015 – Mei 2016)
Pendiri dan Ketua Yayasan Bakti Kasih Papua (9 Mei 2016 – saat ini)
Baca Juga:  Dokter Bedah Ini Melatih Keterampilannya Dengan Cara Mengagumkan
Share.

About Author

Emilio Pandika is an internal medicine physician with a passion and mission to help people get healthy (and happy) with simple positive daily lifestyle changes.

Leave A Reply