dr. Angelina Vanessa: “Kuncinya adalah Melayani dengan Hati”

0
Rutinitas sebagai dokter Rumah Sakit sungguh menggerahkan batin dr. Vanessa. Gerah jadi gairah tatkala ia melibatkan diri dalam berbagai kegiatan doctorSHARE. Ia antara lain menjadi koordinator pelayaran perdana RSA dr. Lie Dharmawan pada Maret 2013. Semangatnya melayani makin tak terbendung. Ia pun mewujudkan kerinduannya menjadi dokter PTT di Kei Besar, Maluku Tenggara.
Di Kei Besar, dr. Vanessa berjibaku dengan minimnya edukasi dan layanan kesehatan akibat kondisi medan yang ekstra sulit. Ia pacu motor kopling untuk mobile clinic“jemput bola” keliling desa. Tubuh mungil membuatnya kerap jatuh dari motor. Ia tak gentar. Pada titik ini – ia sadar bahwa masyarakat Kei membutuhkan kasih, lebih dari sekadar obat-obatan untuk sembuh.
Bagaimana ceritanya menjadi seorang dokter?
Sudah dari kecil aku ingin jadi dokter. Waktu itu sih gara-gara lihat pengemis di jalan dari dalam mobil waktu masih kecil. Aku terenyuh sambil berpikir, “ah, nanti mau jadi dokter supaya bisa gratiskan pasien.” Pelayanan dokter mahal, dokter kan banyak duit. Nah, nanti kalau perlu bisa bagi-bagi duit. Idealisme anak kecil, cuma Tuhan sayang. Aku diberi umur dan rejeki, akhirnya jadi dokter.
Saat jadi dokter pun bertemunya dengan dr. Lie. Aku sempat kerja di RS Husada yang seperti rutinitas. Periksa pasien, dapat duit. Di situ rasanya masih ada kekosongan atau kehampaan. Bertemu dr. Lie, waktu itu hanya ikut baksos (bakti sosial). Tapi lama-lama involve dan makin kayak jatuh cinta dan sayang. Di doctorSHARE inilah aku menemukan semangat lain yang belum pernah aku temui. Memang passion-nya di sini.
Ketika bisa melayani masyarakat dan balasannya bukan materi, bukan uang, itu yang benar-benar membuat batin puas. Kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan. Orang mikirnya, “masa sih elu se-idealis itu?” Ya memang butuh duit, namanya juga hidup. Cuma memang ada passion yang nggak bisa disingkirkan juga.
Sudah gabung doctorSHARE sejak 2012 dan menjadi koordinator lapangan ketika Rumah Sakit Apung pertama kali berlayar…
Dulu sih awalnya sempat berpikir bahwa Rumah Sakit Apung adalah sesuatu yang nggak mungkin dijalanin. Aku sih mikirnya bukan dari apakah dokternya punya skill melakukan operasi atau enggak di atas kapal. Cuma lebih mikir kayaknya operasionalnya tuh besar. Apakah kita akan sanggup untuk maintenance-nya? Untuk sekali dua kali sih bisa dicari, tapi kalau untuk terus-terusan apa sanggup?
Dulunya berpikir, wah ini nggak bisa. Tapi setelah pelayanan medis demi pelayanan medis berjalan, dan memang banyak orang yang butuh dan tersentuh, aku rasa ini sesuatu yang perlu terus kita jaga. Semoga bisa diwariskan ke generasi berikutnya, mungkin dimodifikasi menjadi lebih baik. Rumah Sakit Apung, terutama untuk Indonesia, adalah suatu bentuk pelayanan medis yang memang cukup tepat sih… Kita harus “jemput bola”.
Waktu aku berugas di Kei, duduk di Puskesmas saja memang ada pasiennya. Satu puskesmas untuk sekian desa. Cuma memang kendala mereka adalah jalan yang jelek. Nggak ada transportasi umum seperti di kota-kota besar. Jadi gimana mereka mau mencapai ke pusat kesehatan masyarakat?
Puskesmas memang gratis. Tapi kalau sudah tergeletak sakit berat lalu nggak ada kendaraan dan uang untuk ojek atau sewa mobil, ya istilahnya “tunggu mati” aja. Jadi sistem jemput bola memang tepat untuk Indonesia, entah dengan Rumah Sakit Apung, Dokter Terbang, mobile clinic dengan motor, atau apapun juga.
Mengapa tertarik dengan Pulau Kei di Maluku Tenggara…
Salah satu ikon doctorSHARE memang Panti Rawat Gizi. Selentingan soal Kei sih sudah tahu dari tahun 2013. Entah kenapa, rasanya ada panggilan ke sana. Sebetulnya aku ingin ke Kei sejak akhir 2013 dan nggak tahu apa yang mendorong. Pokoknya mau ke sana. Mungkin karena aku suka anak-anak, lalu program utama doctorSHARE di sana adalah Panti Rawat Gizi yang merawat anak-anak. Ijin orang tua belum ada, itu sebabnya keinginan ke Kei baru terkabul Oktober 2014.
 
Cerita sampai akhirnya memutuskan jadi dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Kei Besar?
Waktu itu aku jadi dokter di RS Husada sambil bergabung bersama doctorSHARE. Sebelumnya, aku sudah coba dua kali mau daftar PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) tapi nggak bisa. Salah satu persyaratan PPDS adalah pernah jadi dokter PTT. Di satu sisi aku harus menata masa depan, di sisi lain belum rela untuk meninggalkan doctorSHARE. PTT di Kei bisa menggabungkan keduanya. Sambil PTT, aku bisa tetap menjadi relawan doctorSHARE untuk Panti Rawat Gizi-nya.
Waktu itu sebetulnya ada relawan doctorSHARE lainnya yaitu dr. Karnel Singh, hanya saja posisinya tidak satu desa sehingga sulit menjalankan Panti Rawat Gizi-nya. Panti Rawat Gizi jadi kurang aktif melakukan screening turun ke lapangan. Jadi paling tepat adalah PTT. Untuk masa depan yaitu melanjutkan sekolah spesialis, sambil mengembangkan Panti Rawat Gizi doctorSHARE. Oktober 2014 akhirnya aku ke Kei Besar.
Sempat mengalami “culture shock’ pada masa awal tinggal di Kei Besar?
Ada banget, tiga bulan pertama. Aku memang sudah terbiasa pelayanan medis di daerah terpencil atau sangat terpencil. Pikirku, wah berarti udah ngertilah orang-orang daerah kayak gimana. Cuma memang beda. Pelayanan medis itu paling hanya sembilan hari. Dalam sembilan hari itu mungkin mereka melakukan hal-hal di luar kebiasaan karena hadirnya tim dokter.
Mereka mengusahakan makanan enak untuk tim dokter. Tapi makanan sehari-hari mereka belum tentu bisa selengkap ketika kita datang pelayanan medis. Saat kita datang pelayanan medis, mungkin effort mereka lebih besar. Ketika hidup bersama, di situlah kita tahu kebiasaan mereka. Misalnya cara keras didik anak. Aku keturunan Jawa, jadi di rumah nggak terlalu keras didiknya. Kekerasan fisik terhadap anak bisa dibilang enggak ada, bukan itu cara mendisiplinkan anak di rumah.
Ternyata di Kei Besar berbeda. Di sekolah, guru meng-geplak kepala anak dengan suara keras itu biasa banget. Sebagai dokter, aku juga ingin mendorong mereka disiplin. Tapi aku cuma bisa menasihati dan ternyata nggak masuk. Mereka sudah biasa main geplak dan itu yang lebih masuk. Aku tidak pernah melakukan hal semacam itu di sana karena bertentangan dengan hati nuraniku. Dalam hati, “kok harus begini ya mendidik anak?” Sayang banget kalau harus pakai kekerasan.
Di sana juga sepertinya masih berlaku kasta. Perempuan dan laki-laki beda banget. Dalam acara adat, kawinan atau ada yang meninggal, mereka ada makan-makan besar. Biasanya yang diutamakan adalah mereka yang dihormati seperti tokoh agama, pastor atau ustadz.
Dokter juga dihormati. Kita makan duluan di meja yang lebih bagus dengan lauk lebih lengkap. Urutan kedua itu bapak-bapak. Baru setelah itu ibu-ibu. Kesannya perempuan itu level nomor dua. Kalau makan terakhir kan paling hanya bersisa nasi dan sisa sayur. Ikan sudah habis.
Mata pencaharian utama warga Kei Besar?
Berkebun dan nelayan. Saat ombak dan tidak bisa melaut, mereka akan berkebun. Dan sebaliknya. Apapun mereka kerjakan. Rata-rata bisa dua-duanya.
Bagaimana kondisi fasilitas seperti ketersediaan air bersih?
Di sana adalah area pegunungan. Puji Tuhan airnya dari mata air. Segar dan rasanya enak, dingin. Hanya suhunya bisa sangat panas. Anak kota biasanya panas sedikit pasang kipas atau AC. Atau minum air dingin segar dari kulkas. Di sana mana ada? Tidak ada listrik. Tapi aku nggak kesulitan untuk beradaptasi dalam hal fasilitas. Lebih ke masyarakatnya dan keterpencilannya.
Biasanya di rumah aku tinggal di rumah bareng papa mama. Ramai. Ini tinggal di rumah dinas sendirian. Jadi lebih sepi. Akhirnya aku mencari teman dan mengunjungi rumah-rumah supaya tidak merasa kesepian dan punya keluarga. Untuk makanan, nggak sulit buat aku untuk beradaptasi.
 
Berapa area yang berada di bawah tanggung jawab Puskesmas Bombay?
12 desa. Tapi tidak semuanya bisa dilalui lewat jalur darat. Ada yang hanya bisa dilalui speed boat, terutama musim hujan. Jalannya bukan aspal tapi bebatuan kerikil. Air hujan menyapu kerikil sehingga kalau naik motor bisa selip.
Tantangan terbesar ketika melakukan mobile clinic?
Transportasinya. Jalannya sempit dan kadang hanya selebar roda motor. Kiri kanan masih rerumputan. Itu sebabnya ketika mobile clinic pakaian harus tertutup lengkap. Kalau tidak, kita bisa tergores-gores batang rumput dan batang kayu. Luka-luka lecet. Motor yang digunakan juga harus motor kopling karena kondisi jalan tidak bisa diprediksi. Aku harus sesuaikan dengan tinggi badan.
Selain itu, motor kopling pasti lebih berat dari motor bebek. Butuh effort tersendiri. Kondisi jalan pun masih kerikil-kerikil. Walaupun sudah biasa lewat, tapi saat hujan itu berbahaya. Jatuh tertimpa motor itu entah sudah berapa kali aku alami. Nggak bisa dihitung. Kaki terjepit motor-lah, harus dorong-dorong motor di tanjakan-lah. Bermotor di tanjakan saja sudah berat, ini nanjak sambil mendorong motor dan motornya adalah motor kopling.
Di sana juga anginnya kencang saat hujan, jadi pohon sering runtuh. Kalau itu terjadi, kita harus ngelewatin batang pohon. Saking gede-nya batang pohon, nggak mungkin kita angkat atau kita singkirkan kalau nggak bawa gergaji. Nggak mungkin pakai parang soalnya gede banget. Jadi satu-satunya cara kalau nggak pakai gergaji ya kita angkat motornya.
Kalau batang pohonnya gede banget, kita susun-susun batu supaya motornya bisa diturunkan. Kalau pendek, motornya kita angkat sama-sama supaya bisa lewat. Tiang listrik juga pernah jatuh. Benar-benar tidak terprediksi. Itu sebabnya untuk daerah jauh tidak boleh sendiri. Paling tidak harus dua motor sehingga bisa saling menolong, terutama kalau perlu mengangkat motor.
Jadi tantangan utamanya adalah kondisi akses jalan. Kalau masyarakatnya sih baik. Mereka sudah tahu bahwa kita datang ke sana ingin melayani mereka. Mereka welcome. Sebisanya mereka kasih minum teh dengan biskuit, semampunya mereka. Kita tidak minta tapi mungkin mereka pikir kita sudah melalui perjalanan jauh. Biasanya kita yang harus prepare sendiri. Makanan atau snack harus selalu di tas.
Bagaimana kondisi kesehatan masyarakat di sana?
Menurut aku masih sangat buruk. Hal-hal sederhana seperti masalah kebersihan belum diperhatikan. Kalau sudah sering ikut penyuluhan, penyakit seperti diare, batuk, pilek itu seharusnya tidak banyak terjadi. Itu penyakit yang mengganggu produktivitas hidup. Kalau diare melulu kan jadi nggak bisa masuk sekolah atau masuk kerja. Padahal asal muasalnya sederhana banget yaitu nggak cuci tangan dan nggak mengolah makanan dengan hygiene yang benar.
Nggak usah deh berpikir soal kasus operasi yang besar-besar. Batuk, pilek, TBC, dan diare itu masih banyak terjadi. Yang paling parah, dulu pernah dapat kasus anak 10 bulan dehidrasi berat karena diare. Anaknya sudah koma, harusnya sudah masuk PICU dengan selang napas bantuan.
Tidak ada lagi pembuluh darah yang bisa dimasukkan infus. Pembuluh darah di kepala nggak bisa, pembuluh darah di tangan dan kaki sudah dicoba lebih dari 20 kali. Satu-satunya cara adalah infus tulang. Aku memang pernah lakukan di pelatihan, tapi ke tulang binatang. Akhirnya aku bilang, “ibu, kalau ibu mau bisa saya lakukan. Tapi Ibu berdoa ya… Walaupun dokter, saya juga manusia.”
Akhirnya infus tulang dilakukan. Perawat-perawat pun heran karena belum pernah lihat. Puji Tuhan, anaknya selamat dan hidup. Waktu mobile clinic ke desanya, ibunya datang. “Dok, ini anak yang dokter tolong…” Ini adalah salah satu pasien yang aku bilang mukjijat Tuhan banget. Tuhan benar-benar pakai tangan aku untuk bantu dia, bukan karena aku-nya.
Pengalaman menarik lainnya selama PTT?
Banyak. Banyak kasus yang secara medis seharusnya tidak tertolong karena fasilitas kesehatan yang kurang. Intinya adalah banyak sekali pengalaman iman. Kita tidak boleh mengandalkan diri sendiri. Menolong pasien pun sambil terus berdoa. Puji Tuhan anak 10 bulan yang diare itu tertolong.
Terus pernah juga ibu yang setengah kakinya – dari lutut sampai jari-jari kaki – harus banyak aku potong karena luka diabetes. Busuk dan bernanah. Sudah aku bersihkan sampai otot-ototnya terlihat. Pokoknya udah mengerikan banget. Kalau di Jakarta, itu harusnya dikerjakan oleh dokter spesialis bedah dengan anestesi tidur karena pasti sakit sekali.
Gula darahnya rendah padahal sudah di-infus gula. Sudah kita masukkan tapi tidak naik-naik, masih terus di bawah 50. Itu kasarnya tidak ideal bagi makhluk hidup untuk hidup. Semua sel butuh gula. Keluarganya hanya bisa pasrah membawa pulang walaupun sudah diberikan inform consent bahwa ada kemungkinan pasien meninggal dalam perjalanan. Eh ternyata selamat. Akhirnya dapat kabar dia masih hidup sekian bulan kemudian. Menurut aku itu mujizat Tuhan.
Dengan segala keterbatasan di sana, menurutku banyak pasien yang kasusnya “heboh” namun ternyata masih bisa survive. Pernah juga menjahit pasien yang punggung kakinya tertimpa kayu sampai kulit kakinya robek. Aku jahit kurang lebih sampai 30 jahitan tanpa obat antibiotik.
Menjahitnya tidak masalah, cuma lukanya sudah terekspos. Aku coba bersihkan pakai infus sebelum dijahit itu sulit karena dia kesakitan. Kalau fasilitasnya memadai, lebih baik dibius tidur. Kita bersihkan sampai benar-benar bersih baru tutup. Masalahnya adalah kita khawatir infeksi karena lukanya cukup besar. Pembuluh darah yang terbuka banyak. Kalau infeksinya menyebar ke seluruh tubuh, dia bisa meninggal. Aku hanya beri dia antibiotik oral yang generik.
Orangnya ternyata sembuh dan sudah bisa beraktivitas lagi enam bulan kemudian. Kulitnya sudah kelihatan bagus. Tidak ada infeksi. Aku selesai PTT pun sudah bagus, dia sudah bisa naik motor lagi. Banyak hal yang tidak dapat dijelaskan oleh logika manusia. Tuhan seperti ingin menunjukkan kebesaranNya. Itu sebabnya jangan sombong. Tidak semua bisa diatasi oleh kepandaian manusia.
Menurut pendapat pribadi, apa penyebab utama masih rendahnya kualitas kesehatan masyarakat?
Masalah infrastruktur yang belum baik, transportasi. Sebenarnya setiap Puskesmas punya tugas untuk turun lapangan ke desa-desa. Kalau itu berjalan, sebenarnya tidak dibutuhkan lagi mobile clinic doctorSHARE. Hanya saja petugas Puskesmas tidak ingin susah-susah merisikokan nyawa dan uang ojek yang jumlahnya ratusan ribu karena jeleknya kondisi jalan.
Masalahnya bukan pada jarak tapi bahaya yang harus ditempuh. Tukang ojek jadi charge biaya mahal. Karena tidak banyak petugas yang terjun langsung ke lapangan untuk penyuluhan, masyarakat pun terbengkalai. Soal kesehatan yang sederhana saja mereka tidak tahu. Di luar faktor malas, sulit untuk penyuluhan ke desa-desa seminggu atau sebulan sekali meski ada dananya.
Angka kematian ibu dan anak juga masih tinggi karena petugas tidak bisa rutin datang ke desa-desa. Petugas tidak tahu kehamilan yang berisiko sehingga tidak bisa mengedukasi mereka. Akhirnya mereka melahirkan lagi di mama biang atau dukun yang tidak steril. Mereka cuma tahu anak lahir, tali pusar dipotong, ari-ari keluar. Padahal kita harus memperhatikan gerakan bayi dan penggunaan Alat Perlindungan Diri (APD) demi keselamatan sang ibu maupun orang yang menolongnya.
Bagaimana dengan persoalan gizi kurang/gizi buruk?
Jika dibandingkan tahun 2009, aku rasa sudah berkurang. Selama setahun PTT, aku sudah mengelilingi hampir satu pulau Kei Besar. Sudah ada motor. Speed boat juga sudah ada teman-teman di sana jadi tahu cara kelilingnya. Setiap desa sudah tahu kalau ada anak gizi buruk, rujukannya ke Puskesmas Bombay. Nanti makan, minum, dan transportasi kita tanggung.
Mungkin sekarang dalam satu pulau tidak terlalu banyak anak gizi buruk. Kalau gizi kurang mungkin lebih banyak. Aku juga udah ninggalin nomor kontak di setiap desa. Kalau ada kasusnya, mereka bisa lapor. Pas aku turun juga pasti nanya ada nggak anak dengan ciri-ciri gizi buruk. Memang nggak terlalu banyak dibandingkan dulu. Dulu satu desa bisa ada tiga anak gizi buruk. Sekarang satu desa saja sepertinya sudah jarang. Memang sudah lebih baik, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali.
Jaman dulu banyak terjadi kasus gizi buruk, tapi tidak banyak yang mau dirawat. Mereka berpikir akan jauh dari keluarga sementara harus mengurus empat atau lima anak lainnya. Tapi kemarin aku sudah turun langsung ke desa-desanya, bukan berdasarkan laporan petugas Puskesmas yang bisa salah. Dan memang tidak banyak. Ketika mobile clinic pun aku tanya-tanya masyarakatnya.
Penyakit terbanyak yang ditemui selama mobile clinic?
Diare, batuk pilek, dan hipertensi. Mereka memang mengaku tidak pakai garam, tapi pakai vetsin sebanyak-banyaknya padahal itu salah satu pemicu darah tinggi. Mereka tidak tahu itu. Kulturnya seolah tidak bisa kalau masak tanpa penyedap rasa. Di Jakarta, aku rasa sudah lebih banyak orang yang punya mindset soal pola hidup sehat.
 
Peranan apa yang dapat dilakukan doctorSHARE untuk mengatasi masalah-masalah tersebut?
Pelayanan kesehatan primer pun masih sangat membantu. Untuk menjalankan mobile clinic paling modalnya hanya stetoskop dan obat oral. Ini masih sangat membantu karena sistemnya jemput bola. Ketersediaan obat dan petugas di Puskesmas juga masih sangat minim. Tanpa perlu melakukan hal “wah”, mereka masih membutuhkan pelayanan kesehatan dasar dan penyuluhan soal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Kalau dilakukan kontinyu aku rasa harusnya bisa membawa perubahan.
Ceritakan soal Klinik doctorSHARE di Kei Besar…
Klinik doctorSHARE berada di lahan Balsomlait. Peletakan batu pertamanya 27 April 2015. Butuh 10-15 menit bermotor kalau mau ke pusat kabupaten. Daerah sekitarnya masih hutan dan gunung. Ada juga warga yang membuka lahan perkebunan di sana. Pemandangannya sangat indah karena mengarah ke Elat, daerah pantai. Posisi di dataran tinggi membuat udaranya jadi sejuk.
doctorSHARE juga sedang berusaha menyambung pipa air ke klinik. Sumber airnya adalah mata air. Yang masih kesulitan adalah listriknya karena penarikan kabel listrik bergantung pada PLN. Sampai saat ini, pembangunan klinik sudah 100%. Pengisiannya masih dalam proses. Beberapa alat sudah dibeli dan akan di-setting di dalam klinik. Peralatan belum dipasang sama sekali mengingat faktor keamanan, saat ini kita belum membangun pagar sehingga mudah dilihat mata telanjang.
Rencana ke depan, dokter yang ditempatkan di sana pun tidak bisa sendirian. Dia perlu tinggal bersama petugas logistik sehingga bisa saling berteman. Wajar karena kiri kanan masih sepi. Kita juga tidak ingin merisikokan nyawa jika terjadi apa-apa. Paling tidak harus berdua. Untuk periode awal, kegiatan yang bisa dilakukan adalah pelayanan rawat jalan dan penyuluhan kesehatan. Selain itu adalah mengaktifkan kembali Panti Rawat Gizi yang saat ini masih dititipkan di Bombay.
 
Keunikan klinik doctorSHARE nantinya dibandingkan Puskesmas yang sudah ada?
Dokter yang bertugas melayani dengan hati dan hal ini bisa dirasakan pasien. Kita juga berharap bisa memberikan pelayanan yang lebih baik. Kita bukan bekerja hanya karena rutinitas. Lebih dari itu, kuncinya adalah melayani dengan hati.
Dulu doctorSHARE pernah pelayanan medis di tempat yang dekat dengan Puskesmas dan ada dokternya. Tapi orang lebih memilih doctorSHARE karena mereka tahu dokter mana yang lebih melayani dengan hati dan mana yang hanya rutinitas dengan mental “yang penting sudah digaji”. Mental ini akan menciptakan jarak antara dokter dengan pasien.
Pasien tidak hanya perlu sembuh dengan obat. Mereka sebetulnya butuh interaksi, butuh penghiburan psikis, butuh didengarkan. Masyarakat juga ingin dianggap sebagai manusia. Inilah spirit yang berkembang dalam doctorSHARE. Kita melihat setiap orang berharga sebagai sesama manusia. Tidak ada yang lebih tinggi posisinya karena kita semua melayani dengan hati.
Hal paling berharga yang dipelajari selama melayani di Kei Besar?
Aku memang tidak belajar ilmu baru di sana karena memang tidak ada spesialis. Di Jakarta, mungkin aku bisa lebih cepat pintar karena banyak pelatihan. Tapi di sana, dengan fasilitas minim aku harus bisa menyelamatkan orang dengan segala keterbatasan. Iman jadi sangat bertumbuh. Intinya, hal paling berharga yang diperoleh selama melayani di Kei Besar adalah pelajaran soal kehidupan.
 
Rencana ke depan?
Aku masih ingin bergabung dengan doctorSHARE karena masih banyak hal yang bisa dikembangkan, misalnya Kei Besar. Aku merasa ada tanggung jawab di situ, adaconnect-nya. Ingin banget melihat pelayanan di Kei Besar ini bisa berjalan dan berkembang, apalagi mencari tanah untuk klinik tak mudah.
Aku yang selama ini berkomunikasi mewakili doctorSHARE dengan masyarakat dan Pemerintah Daerah. Jika klinik berjalan, ada harapan baru untuk mengembangkan kesehatan di Kei Besar. Jadi ada tanggung jawab moral. Mereka berharap bisa mendapat pelayanan yang lebih baik sehingga tidak perlu lagi keluar ongkos transportasi lagi untuk menyeberang ke Kei Kecil (dengan speed boat).
Selain itu, pelayanan semacam ini memang jadi passion aku. doctorSHARE menjadi tempat yang paling tepat buatku untuk menyalurkan passion ini. Bisa saja kemarin sesudah PTT aku apply sana sini. Tapi aku sudah merasakan rutinitas melayani pasien dan bukan itu yang aku cari.
Pesan-pesan untuk rekan sama sesama dokter dan pemerintah?
Teman-teman dokter, mari kita buka hati untuk belajar melayani masyarakat di daerah. Banyak sekali Puskesmas yang masih kosong, terutama di daerah terpencil dan sangat terpencil. Untuk pemerintah, dukunglah dalam hal akses. Sebetulnya banyak yang mau melayani tapi kadang pemerintah sendiri yang sering membatasi, misalnya dengan penerapan kuota.
Mungkin banyak yang khawatir akibat munculnya kasus dokter yang meninggal karena sakit dan terlambat dirujuk. Ini harus menjadi concern tersendiri, entah dari sisi asuransi atau tunjangan. Bukan melulu soal duit, tapi perhatian terhadap keselamatan. Bagaimanapun mereka sudah memiliki hati dan bersedia memberikan waktu untuk melayani saudara-saudara di tempat terpencil.
Oleh: Sylvie Tanaga
Nama Lengkap: Angelina Vanessa Darmadja
Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 22 September 1986
Riwayat Pendidikan
SD Bunda Hati Kudus, Jakarta (1992 – 1998)
SMP Bunda Hati Kudus, Jakarta (1998 – 2001)
SMA Bunda Hati Kudus, Jakarta (2001 – 2004)
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta (2004 – 2010)
Pengalaman 
Koordinator Divisi Fundraising doctorSHARE (2013 – 2014)
Dokter PTT Daerah di Puskesmas Bombay, Kei Besar – Maluku Tenggara (Oktober 2014 – Oktober 2015)
Koordinator Divisi Logistik doctorSHARE (2015 – saat ini)
Koordinator Pelayanan Medis doctorSHARE untuk Kei Besar – Maluku Tenggara (2016 – ………)
Baca Juga:  dr. Herliana Elizabeth Yusuf: “Tilik Kembali Tujuan Awal Jadi Dokter”
Share.

About Author

Emilio Pandika is an internal medicine physician with a passion and mission to help people get healthy (and happy) with simple positive daily lifestyle changes.

Leave A Reply