Apakah “Gluten Free” Merupakan Jawaban Bagi Autisme?

0

Mediamedis.com – Autisme telah menjadi suatu kondisi yang sering dijumpai pada saat ini, dengan angka prevalensi yang mencapai 1 di antara 88 anak, menjadikan Autisme sebagai masalah kesehatan yang harus ditanggapi secara serius. Kata “Autisme” berasal dari bahasa Yunani  autos, yang berarti “diri sendiri.” Kata ini telah digunakan sejak sekitar 100 tahun untuk menggambarkan suatu kondisi di mana seseorang tidak dapat terlibat dalam interaksi sosial.

Autisme atau yang lebih tepatnya disebut dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah suatu kondisi gangguan perkembangan yang terjadi saat masa perkembangan awal anak. Gangguan ini memiliki tanda-tanda yang sangat khas yaitu gangguan dalam berkomunikasi, interaksi sosial, perilaku dan aktivitas.

Studi juga menunjukkan bahwa autisme timbul empat sampai lima kali lebih umum pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.

Autism Spectrum Disorder tidak mengacu pada satu kelainan saja, tetapi merupakan suatu spektrum dari gangguan perkembangan yang di dalamnya mencakup: Gangguan Autisme (Autis), Sindrom Asperger dan PDD-NOS (Pervasive Developmental Disorder-Not Otherwise Specified atau Autism Atopic). Autisme nampaknya memiliki akar dalam perkembangan otak pada tahap sangat awal. Namun, tanda-tanda dan gejala dari autisme cenderung akan muncul belakangan, yaitu antara usia 2 dan 3 tahun, yang kemudian akan terus berlanjut sepanjang hidup anak tersebut.

ASD dapat berkaitan dengan gangguan intelektual, kesulitan dalam koordinasi motorik, kesulitan dalam berkomunikasi baik verbal maupun non verbal dan juga kesehatan fisik seperti gangguan tidur dan pencernaan. Namun demikian banyak pula orang dengan ASD sangat unggul dalam bidang lain seperti musik, matematika dan seni. Sekitar 40 persen dari penderita autisme memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata.

Belum lama berselang, jawaban atas pertanyaan, “apakah penyebab Autisme?” adalah, “kita tidak tahu.” Namun penelitian sekarang dapat sedikit banyak memberikan jawaban. Pertama dan terpenting, kita sekarang tahu bahwa tidak ada satu penyebab tunggal dari Autisme atau ASD.

Selama lima tahun terakhir, para peneliti telah dapat mengidentifikasi sejumlah mutasi dari gen, yang berhubungan erat dengan autisme. Hanya dengan perubahan kecil dari gen ini saja, cukup untuk menyebabkan timbulnya autisme. Sehingga nampaknya sebagian besar dari kasus Autisme disebabkan oleh kombinasi dari terdapatnya gen dengan “risiko autisme” dan faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan otak awal.

Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan otak anak pada tahap awal seperti: mereka yang termasuk lanjut usia pada saat pembuahan (baik ibu dan ayah), penyakit ibu selama kehamilan dan kesulitan tertentu selama kelahiran, terutama yang periode yang melibatkan kekurangan oksigen ke otak bayi.

Sekali lagi perlu diingat bahwa faktor-faktor ini sendiri tidak dapat menyebabkan autisme, sebaliknya, ditambah dengan adanya faktor “risiko genetik”, risiko munculnya Autisme menjadi tinggi.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa seorang wanita dapat mengurangi risiko memiliki anak dengan autisme dengan mengkonsumsi vitamin prenatal yang mengandung asam folat atau makan makanan yang kaya asam folat (sekurangnya 600 mcg perhari), dalam masa sebelum dan sesudah pembuahan.

Setiap individu dengan gangguan autisme adalah unik, sehingga setiap rencana pengobatan atau penanganan harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan yang spesifik untuk tiap-tiap individu, jadi tidak ada satu penanganan baku yang sama untuk semua penderita Autisme.

Intervensi dapat merupakan kombinasi dari terapi perilaku, obat-obatan atau diet. Banyak individu dengan autisme memiliki kondisi medis tambahan seperti gangguan tidur, kejang dan gangguan pencernaan, yang merupakan tambahan pertimbangan dalam terapi. 

Diet GFCF, atau yang telah dikenal sebagai “Autisme Diet” telah dikenal selama bertahun-tahun dan telah menimbulkan banyak kontroversi dalam hal penanganan individu dengan autisme. 

Diet GFCF (Gluten Free Casein Free) adalah diet bebas gluten dan kasein. Gluten adalah protein yang banyak terkandung dalam biji-bjian seperti gandum, barley dan rye; kasein adalah protein dari susu dan turunannya seperti keju, yogurt atau mentega. Dengan menghilangkan gluten dan kasein, berarti banyak makanan seperti susu, keju, roti, es krim, makanan olahan, cereal, pasta dan banyak lainnya akan hilang dari menu si penderita autisme.

Karena diet autisme ini harus dilakukan secara ketat tanpa pengecualian, hal ini dapat menimbulkan stres tambahan bagi orang tua si anak dan juga menjadi dasar kecemasan bagi dokter akan kurangnya nutrisi penting yang akan diperoleh si anak, terutama vitamin D dan kalsium.

Oleh sebab itu konsultasi dan keterlibatan ahli nutrisi sangat dianjurkan sebelum orang tua memilih untuk menjalankan diet autisme ini bagi anaknya.

Mekanisme dari diet ini belum sepenuhnya dimengerti, salah satu teori yang banyak dianut adalah bahwa individu dengan autisme tidak dapat sepenuhnya memecah protein kasein dan gluten sehingga terjadi peningkatkan permeabilitas usus (“leaky guts”, “kebocoran usus” ), sehingga protein tersebut bocor melalui dinding usus dan masuk ke aliran darah.

Protein tersebut dapat mencapai otak dan dapat menyebabkan masalah dengan perilaku, ucapan, dan keterampilan sosial. Banyak praktisi medis tidak sepaham dengan adanya sindroma “leaky guts” itu.

Teori kedua adalah bahwa anak-anak dengan autisme mungkin memiliki alergi atau sensitivitas tinggi terhadap makanan yang mengandung gluten atau kasein. Reaksi alergi terhadap protein tersebut yang menimbulkan gejala-gejala autism tersebut.

Walaupun bagi sebagian orang tua yang memiliki anak penderita autisme, diet ini telah banyak memperbaiki kehidupan anak mereka, baik dari segi kesehatan maupun dalam hal fungsional, namun diet ini tidak berlaku untuk sebagian lagi. Nampaknya diet ini memberi manfaat terbesar bagi mereka yang memiliki alergi makanan atau memiliki masalah pencernaan kronis.

Baca Juga:  Pendekatan Keluarga Untuk Pengenalan Dini Autisme

Gluten dan kasein ditemukan dalam banyak makanan yang dimakan anak-anak, sehingga menghapus makanan ini dapat membahayakan kesehatan, gizi, dan pertumbuhan jika diet baru tidak direncanakan dengan baik, sehingga sangat dibutuhkan kerja sama yang baik antar praktisi kesehatan, seperti ahli nutrisi dan dokter anak yang terbuka untuk “diet autisme” demi tercapainya bukan hanya penanganan masalah autisme melainkan juga status nutrisi dan perkembangan fisik si anak yang sempurna.

(MM/EP)

autismspeaks.org, autism.com, parents.com, webmd.com, wsj.com
Share.

About Author

Emilio Pandika is an internal medicine physician with a passion and mission to help people get healthy (and happy) with simple positive daily lifestyle changes.

Leave A Reply