555 Hari Tanpa Jantung Dalam Rongga Dada

0

Mediamedis.com – Setelah lebih dari satu tahun hidup dengan menggunakan jantung buatan yang dibawa di dalam tas punggung, Stan Larkin akhirnya pulang ke rumah dengan jantung manusia.

Seorang pemuda berusia 25 tahun, Stan Larkin, bertahan hidup selama 555 hari tanpa jantung di dalam rongga dadanya. Dengan menggunakan alat yang disebut SynCardia Freedom Total Artificial Heart, yang selalu dibawanya dalam tempat khusus yang berupa tas punggung, Stan dapat menjalani kehidupan normal layaknya pemuda lainnya.

Operasi yang dilakukan oleh Dokter Jonathan Haft, seorang ahli bedah jantung dari University of Michigan Frankel Cardiovascular Center, merupakan tanda kemenangan atas usaha untuk mengganti jantung yang rusak, di mana penyakit gagal jantung terus bertambah sedangkan ketersediaan donor tetap langka.

“Jantung saya semakin lama semakin lemah”, tutur Stan. ” Saya menunggu giliran untuk mendapatkan transplantasi jantung, namun dokter mengatakan saya tidak memiliki cukup waktu”, tambahnya.

Stan menderita penyakit yang disebut dengan ARVD (arrhythmogenic right ventricular dysplasia), suatu kondisi di mana jantung memiliki irama yang tidak teratur dan dapat mengakibatkan henti jantung secara mendadak. Hal ini diketahuinya ketika Stan mendadak kolaps pada saat sedang bermain bola basket dekat rumahnya di Ypsilanti, Michigan. Pada saat itu Stan berusia 16 tahun.

Pada saat itu Stan dapat diselamatkan, dokter memasang defibrilator (alat kejut jantung) untuk mengatasi irama jantungnya bila menjadi tidak teratur, namun Stan harus menjauhi aktifitas yang berlebihan — termasuk olah raga favoritnya, bola basket.

Kondisi ini tidak bertahan lama, pada bulan April 2012, walaupun telah menghindari aktifitas yang berlebihan, kelainan jantung Stan semakin progresif yang mengakibatkan kegagalan pada kedua sisi jantungnya yang bekerja sebagai pompa. Defibrilator saja tidak mencukupi untuk mengatasi kelainan jantung Stan, ia harus menjalani transplantasi jantung.

Kondisi Stan, ayah dari tiga orang anak ini semakin lemah, dengan golongan darah O-positif, dia berada di belakang ratusan orang lainnya yang menunggu giliran untuk menerima transplantasi jantung.

Dokter Jonathan Haft mengatakan bahwa pilihan terbaik bagi Stan adalah transplantasi, namun kondisinya memburuk dengan sangat cepat. Kita, tim dokter dari University of Michigan Hospital, tidak melihat kemungkinan bagi Stan dapat bertahan hingga kita menemukan donor yang cocok untuknya.

Untuk membeli waktu, pada bulan November 2014 tim dokter mengangkat jantung Stan yang sudah tidak mampu berfungsi tersebut, digantikan dengan mesin jantung buatan seberat 190 Kg  yang disebut dengan “Big Blue”. Mesin besar itu walaupun mampu menggantikan fungsi jantung Stan, namun membuatnya hanya dapat terbaring di tempat tidur.

Stan dapat bertahan hidup, tetapi bukan kehidupan yang normal

Bulan Juni pada tahun yang sama, FDA (Food And Drug Administration), menyetujui penggunaan versi portable dari Big Blue yaitu Freedom Portable Driver, saudara kecil dari Big Blue ini memiliki berat hanya 6 Kg, menggunakan tenaga baterai dan dikemas dalam tas khusus yang dapat dibawa-bawa.

Dengan jantung buatan di dalam tas, Stan dapat kembali ke rumahnya, meneruskan hidupnya, bahkan melanjutkan olahraga favoritnya, bola basket. Namun dia tetap harus berhati-hati, terutama pada saat mandi, dia juga tidak dapat menggendong putri ciliknya.

Stan “menggendong” jantung buatannya, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, hingga akhirnya pada bulan Mei 2016, setelah menunggu selama 555 hari, Stan menerima jantung transplantasinya di University of Michigan Frankel Cardiovascular Center.

Perjuangan panjang yang dialami oleh Stan Larkin berakhir dengan bahagia, namun tidak demikian dengan semua pasien yang menderita kegagalan jantung. Menurut U.S. Organ Procurement and Transplantation Network, rata-rata 22 orang meninggal setiap harinya selama menunggu giliran untuk menerima transplantasi.

Tidak lama setelah Stan dinyatakan menderita ARVD, adik laki-lakinya Domonique juga di diagnosa dengan penyakit yang sama. Domonique menerima transplantasi jantung dalam waktu yang lebih cepat, dimana sebelum itu juga menggunakan mesin Freedom Portable Driver namun hanya untuk 4 hari saja. Sama seperti Stan, Domonique memiliki tiga orang anak, dua di antaranya meninggal, dimana salah satunya karena ARVD.

Baca Juga:  Merekayasa Otot Jantung Dari Sel Kulit

Dokter Haft mengatakan bahwa, dengan adanya jantung buatan dan portable driver, pasien gagal jantung yang sedang menunggu giliran untuk menerima transplantasi memiliki harapan baru, sesuatu yang  tidak pernah terjadi sebelumnya.

(MM/EP)

University of Michigan Health System, uofmhealth.org, medicaldaily.com, washingtonpost.com, mlive.com
Share.

About Author

Emilio Pandika is an internal medicine physician with a passion and mission to help people get healthy (and happy) with simple positive daily lifestyle changes.

Leave A Reply